Showing posts with label Kisah-kisah spiritual. Show all posts
Showing posts with label Kisah-kisah spiritual. Show all posts

KISAH INDAHNYA BERPRASANGKA YANG BAIK


Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengajiannya. Jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaan tempatnya bekerja. Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do'anya itu. Sementara itu, sang adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orangtuanya yang dulu dia tempati bersama dengan kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji ke rumah guru mereka.

Suatu saat sang kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo'a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo'a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo'a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do'a-do'anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu. Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya sang adik itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orangtuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do'a, diantaranya Al-Fatihah, shalawat, do'a untuk guru mereka, do'a selamat, dan ada kalimah di akhir do'anya : "Ya, Allah. Tiada sesuatu pun yang luput dari pengetahuanMu. Ampunilah aku dan kakakku. Kabulkanlah segala do'a kakakku. Bersihkanlah hatiku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku di dunia dan akhirat."

Sang kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

RENUNGAN:
always be positif thinking..^_^
Baca Selengkapnya ... »»  

KISAH 2 MALAIKAT PENGEMBARA


Alkisah, ada dua malaikat pengembara yang tengah turun ke bumi. Mereka memutuskan untuk bermalam di rumah sebuah keluarga kaya raya. Keluarga itu menyambut mereka dengan dingin dan tidak memberikan kamar tidur tamu sebagai tempat istirahat kedua malaikat itu. Malaikat itu malah diberikan sebuah tempat di ruang bawah tanah yang dingin dan berdebu.

Setelah menyiapkan alas tidur di atas lantai yang keras, malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding dan memperbaikinya. Ketika malaikat yang lebih muda bertanya alasannya, malaikat yang lebih tua hanya menjawab, "Sesuatu itu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya".

Malam berikutnya, kedua malaikat itu mengunjungi rumah sebuah keluarga miskin. Di sini, mereka disambut dengan hangat. Petani dan istrinya yang sangat baik dan ramah bahkan memberikan makanan mereka yang hanya sedikit dan juga membiarkan kedua malaikat bermalam di ranjang mereka.

Begitu matahari terbit keesokan harinya, malaikat itu menemukan si petani dan istrinya sedang menangis. Sapi mereka satu-satunya, yang menghasilkan susu sebagai nafkah hidup mereka, terbaring mati di ladang. Malaikat yang lebih muda menjadi kesal dan bertanya kepada malaikat yang lebih tua, "Kok, tega sih membiarkan semuanya ini terjadi?! Keluarga yang pertama punya segalanya, tapi kamu menolong mereka. Keluarga ini berkekurangan dan malah mau berbagi segalanya, tapi kamu membiarkan sapi mereka mati."

Seperti biasanya, malaikat yang lebih tua memberi jawab, "Sesuatu itu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya". Namun kali ini, dia meneruskannya dengan berkata, "Ketika kita bermalam di ruang bawah tanah di rumah megah itu, aku melihat ada bongkahan emas yang tersimpan di ruang di balik lubang dinding itu. Karena pemilik rumah itu sangat serakah dan tidak mau berbagi kekayaannya, aku menutup lubang dinding itu supaya dia tidak akan menemukannya. Lalu, semalam ketika kita tidur di ranjang petani ini, malaikat kematian menyambangi istri si petani. Aku justru berusaha menawar dengan memberikan sapi kepada sang malaikat kematian itu. Sesuatu itu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya."

RENUNGAN:
Terkadang itulah tepatnya yang terjadi ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan kita. Sebagai orang yang beriman, kita hanya perlu percaya bahwa setiap hal, entah itu keberuntungan atau kemalangan, terjadi demi kebaikan kita. Kita mungkin tidak mengetahuinya hingga akhirnya semuanya itu terungkap.
Baca Selengkapnya ... »»  

KISAH TENTANG BENIH


Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu. Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. "Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?" "Sepertinya", lanjut sang bocah, "Aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini."

Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?" Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.

"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama."

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar." "Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."

Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.

Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan. Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil?

RENUNGAN:
Kapankah saat itu akan datang? Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari? Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan?

Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"? Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hambaNya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua. Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu.
Baca Selengkapnya ... »»  

How many Angels Meet You Today? Berapa Malaikat yang Kau Temui Hari Ini?


Ya berapa malaikat yang sudah kau temui hari ini? Atau hari kemarin? Di dalam perjalananmu menuju tempat kerja? Atau dalam perjalananmu menuju ke rumah kembali? Berapa?

Bahkan itu di rumahmu sendiri. Berapa malaikat yang kau temui?

Tidak ada? Tidak mungkin! Siapa bilang?

Mari kita ingat-ingat lagi...

Mungkin dia yang membuatmu marah-marah karena membuatmu terbangun di tengah malam buta. Membuatmu terjaga dengan tangisan. Dan kau hanya berkata dengan bersungut-sungut, "Anak siapa sih? Rese amat malem-malem nangis. Berisik!"

Padahal mungkin ia membangunkanmu untuk sesuatu hal bermanfaat yang bisa kau lakukan di tengah malam itu.

Mungkin dia yang membuatmu sewot, ketika kau bertabrakan badan di jalan sehingga membuatmu terjatuh. Dan kau menjadi sedikit sakit dan malu. Dan kau membentaknya dengan ucapan, "Pake mata dong kalo jalan!" Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berlatih bersabar dan malahan justru jika ia tidak menabrakmu kau akan sedetik lebih cepat dan mungkin ceritanya akan berbeda. Tertabrak mobil barangkali.

Mungkin dia yang membuatmu berpikir buruk, sebab setiap hari ia selalu menengadahkan tangan padamu dengan pakaian compang-camping dan baju dekilnya. Sehingga membuat ini terbersit di pikiranmu, "Males amat sih ini orang. Badan masih seger gitu loh?" Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berpikir positif dan lebih bermurah rejeki, setidaknya bermurah senyum.

Ya. Cobalah ingat-ingat lagi. Berapa kali dalam sehari kau membentak, menghardik, membenci, berprasangka, mencibir, memaki orang lain?

Berapa kali?

Sebab mungkin sebanyak itu pulalah kau berlaku tidak sepantasnya pada malaikat.

Senyumlah setiap hari pada siapapun yang kau jumpai. Berpikirlah positif pada setiap orang yang kau temui. Perlakukanlah orang lain dengan cara yang sama seperti kau mengharapkan orang lain memperlakukanmu. Tuhan selalu "bekerja" dengan cara yang misterius. Maka, selalu lah peka dalam menyikapi semua ini.

Senyumlah.. sebab senyum itu ibadah dan nggak ada ruginya sama sekali...
Baca Selengkapnya ... »»  

CAKE FROM GOD


Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan.

Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata,"Tentu saja mom, I love your cake."

"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan.

"Yaiks," ujar anaknya. "Bagaimana dgn telur mentah" "You're kidding me, Mom."

"Mau coba tepung terigu atau baking soda." "Mom, semua itu menjijikkan" Lalu Ibunya menjawab," Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu.

Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak.

"Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan?

Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn rancangan-Nya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.
Baca Selengkapnya ... »»  

KISAH ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN BERTEMU DISURGA


Alkisah, di suatu negeri pernah hidup seorang kaya raya, yang rajin beribadah dan beramal. Meski kaya raya, ia tak sombong atau membanggakan kekayaannya. Kekayaannya digunakan untuk membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dantetangga-tetangganya yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya. Di musim paceklik, ia membagikan bahan pangan dari kebunnya yang berhektar-hektar kepada banyak orang yang kesusahan. Salah satu yang sering dibantu adalah seorang tetangganya yang miskin.

Dikisahkan, sesudah meninggal, berkat banyaknya amal,si orang kaya ini pun masuk surga. Secara tak terduga,di surga yang sama, ia bertemu dengan mantan tetangganya yang miskin dulu. Ia pun menyapa. "Apa kabar, sobat! Sungguh tak terduga, bisa bertemu kamu di sini," ujar si kaya."Mengapa tidak? Bukankah Tuhan memberikan surga pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa memandang kaya dan miskin?" jawab si miskin. "Jangan salah paham, sobat. Tentu saja aku paham,Tuhan Maha Pengasih kepada semua umat-Nya tanpa memandang kaya-miskin. Cuma aku ingin tahu, amalanapakah yang telah kau lakukan sehingga mendapat karunia surga ini?" "Oh, sederhana saja. Aku mendapat pahala atas amalanmembangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya...."

"Bagaimana itu mungkin?" ujar si kaya, heran."Bukankah waktu di dunia dulu kamu sangat miskin. Bahkan seingatku, untuk nafkah hidup sehari-hari saja kamu harus berutang kanan-kiri?" "Ucapanmu memang benar," jawab si miskin. "Cuma waktu di dunia dulu, aku sering berdoa: Oh, Tuhan! Seandainya aku diberi kekayaan materi seperti tetanggaku yang kaya itu, aku berniat membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara,kerabat dan tetangga yang miskin dan banyak amal lainnya. Tapi apapun yang kau berikan untukku, aku akan ikhlas dan sabar menerimanya."

"Rupanya, meski selama hidup di dunia aku tak pernah berhasil mewujudkannya, ternyata semua niat baikku yang tulus itu dicatat oleh Tuhan. Dan aku diberi pahala, seolah-olah aku telah melakukannya. Berkat semua niat baik itulah, aku diberi ganjaran surga ini dan bisa bertemu kamu di sini," lanjut si miskin.

RENUNGAN:
Maka perbanyaklah niat baik dalam hati Anda. Bahkan jika Anda tidak punya kekuatan atau kekuasaan untuk mewujudkan niat baik itu dalam kehidupan sekarang,tidak ada niat baik yang tersia-sia di mata Tuhan.
Baca Selengkapnya ... »»  

EMPAT CARA MELEPAS


Entah Anda bermeditasi atau tidak, entah Anda beragama Buddha,Kristiani, Muslim, Hindu atau apapun, kita masing-masing dari waktu ke waktu, harus belajar cara melepas.

ada 4 cara melepas, yaitu:

1. Hanya menaruh 1 pikiran dalam 1 waktu.
Memikirkan banyak hal dalam satu waktu, apalagi hal-hal yang bertentangan bisa membuat fokus kita berkurang. Fokus berkurang bisa membuat kinerja dan konsentrasi kita berkurang.

2. Terimalah kenyataan bahwa kita berada disini, sekarang.
Hal ini mengingatkan saya pada teori "The Power of Now" nya seorang penulis buku -yang saya lupa namanya-, bahwa dengan menerima, fokus, dan merasakan saat sekarang, kita akan bisa fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan. Pikiran kita tidak terbang ke masa lalu maupun dibayang-bayangi ketakutan akan masa depan.

3. Memberi tanpa balas jasa.
Berilah sesuatu yang baik dengan rasa ikhlas, tanpa harus memikirkan apa yang akan kita dapatkan ataupun kepemilikan apa yang akan berkurang setelah kita memberi itu. Dengan demikian, kembali kita akan fokus pada memberi, total dalam memberi, menikmati saat-saat memberi itu, dan melepas segala kekhawatiran akan apa yang hilang dan apa yang akan didapatkan.

4. Memiliki batin ala "Teflon", tidak melekat.
Kita pasti pernah mengalami masa bahagia dan juga tidak bahagia. Cukup lepaskan saja semua perasaan itu. Rasa bahagia sekalipun, jangan dirasakan terlalu lama karena bisa berdampak pada kekecewaan saat kita bertemu dengan kesedihan. Memang suatu kegagalan harus dijadikan pelajaran, dan suatu kebahagiaan bisa terus dikenang, tapi janganlah terlalu melekat pada keduanya. Jika kita tidak melekat padanya, maka kita akan bisa bebas dan siap dengan apapun di depan kita. Secepat mungkin kita melepas, secepat itu pula kita akan merasa bebas.
Baca Selengkapnya ... »»  

KISAH BISAKAH KITA HIDUP TANPA DOSA?


Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, bisakah seseorangmelewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?” Ayahnya menjawab sambil tersenyum, “Tak mungkin, nak.”

“Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?” tanyanya lagi. Ayahnya berkata, “Tak mungkin, nak.”

“Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?” Lagi-lagi ayahnya berkata, “Tak mungkin, nak.”

“Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?” gadis kecil itu bertanya lagi. Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab,“Mmmmm …. Mungkin bisa, nak.”

“Lalu… bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa?” Tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?” Ayahnya tertawa dan berkata, “Nah, kalau itu pasti bisa, nak.”

Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata, “Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, momen demi momen,supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya?”

RENUNGAN:
sahabatku, hidup akan sangat mudah dijalani dengan Memperhatikan dan menjaganya setiap waktu dari jam ke jam, tak ada gading yang tak retak, tapi jika dijaga, dipelihara dengan baik, dan dirawat setiap saat, gading retak pun akan jadi pajangan yang indah.
Baca Selengkapnya ... »»  

Kisah Orang Yang pandai berdebat


Pada jaman dahulu, ada seorang pria yang berteman dengan orang yang pandai berdebat. Pada saat itu, ia yakin bahwa temannya itu berbakat (pandai bicara), dan ia tidak terlalu memikirkan hubungan antara keba
ikan dan kejahatan. Seiring waktu, pria ini bertemu dengan banyak orang lain yang mengalami penghinaan dan mereka tidak membantah atau melawan. Saat itulah ia menyadari perbedaan besar antara kedua jenis orang ini.

Suatu hari, ketika membaca buku klasik Dao De Jing (Tao Te Ching) dari Lao Zi, diutarakan bahwa “orang suci melakukan sesuatu namun tidak bertempur demi hal itu”. Dia tiba-tiba tercerahkan pada fakta bahwa kecerdikan orang dalam hal berdebat bukanlah merupakan talenta (bakat) seseorang, malah sesungguhnya kerendahan hati dalam menerima hal apapun barulah tingkat seseorang yang lebih tinggi.

Lao Zi berkata, "Orang Baik Tak Suka Berdebat, Orang yang Suka Berdebat Bukan Orang Baik.” Lebih lanjut ia memaparkan bahwa “Kata-kata jujur mungkin tidaklah enak didengar, namun kata-kata yang enak didengar, belum tentu merupakan kejujuran.” Orang yang suka berdebat mungkin tidak memiliki pengetahuan yang luas, sementara orang-orang yang yang berpengetahuan dan kaya pengalaman mungkin tidak suka berdebat.”

Tersadarkan oleh kebajikan, yang paling penting adalah tindakan, bukan kata-kata. Anda tidak perlu memperdebatkan kebenaran yang lebih tinggi setiap hari. Karena perdebatan pada kenyataannya hanya kata-kata, sedangkan perbuatan lurus barulah yang mengungkapkan intisari sejati seseorang. Setiap kebenaran dan prinsip yang lurus hanya dapat diwujudkan secara terus menerus dan kultivasi sejati.

Selain itu, dalam kitab suci yang berbeda, Konfusius berkata, "Orang bijaksana lambat dalam bicara tapi cepat dalam tindakan". "Orang bijaksana makan, namun tidak sampai kekenyangan. Mereka hidup, namun tidak mencari kesenangan. Mereka pandai dan berpengetahuan, namun berhati-hati dengan apa yang mereka katakan.”

Mereka berdua, Konfusius, Lao Zi dan Master spiritual besar lainnya, setuju bahwa apa pun yang kita lakukan, apakah kita meningkatkan moralitas kita atau terlibat dalam kegiatan sosial, kita harus bekerja keras tanpa banyak berdebat, membantah, menuntut dan komplain.

RENUNGAN:
Jika kita berpikir tentang hal ini dengan hati-hati, orang baik dengan kemampuan besar dan keterampilan tidak perlu mengambil sikap dengan pendirian orang lain. Dia tidak perlu untuk membuktikan pendapatnya. Bahkan dalam menghadapi fitnah atau serangan pribadi, dia dapat berdiri tegak dan tindakannya tetap tidak tercela.

Mereka yang selalu dapat bertahan dalam penghinaan dan mereka yang dapat terus melakukan hal lurus dengan diam-diam tanpa memikirkan imbalan atau pengakuan, alam pikirannya meningkat lebih tinggi daripada mereka yang memiliki batin yang terikat pada kesuksesan duniawi semata. Orang baik tidak membutuhkan sanjungan ataupun pujian untuk mendapatkan respek dari orang lain.

Sebaliknya, mereka yang selalu berargumen dan berdebat setiap hari, tidak memiliki kebijaksanaan yang besar, meskipun mereka mungkin tampak terampil. Orang bijaksana akan berpikir sebelum ia berbicara. Dalam berbicara juga harus menghindari berbicara keras dan kalimat kosong, tidak mengkritik orang lain dengan cara apapun, tapi tulus dan baik kepada semua. Harus selalu menghindari perbedaan pendapat di depan orang lain dan sama sekali tidak menghina orang lain. Inilah ciri-ciri orang lurus dan tingkat tinggi. Jadi, jelas bahwa kita semua harus sedikit bicara, dan banyak kerja. (Erabaru/art)
Baca Selengkapnya ... »»  

Lima Keberuntungan Hadir Dalam Kehidupan


Yang dimaksud dengan 5 keberuntungan ialah:

1. Berumur panjang:
Tidak mati muda, berumur panjang

2. Kaya dan terhormat:
Memiliki kekayaan yang berkecukupan, dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi.

3. Sehat dan tentram:
Berbadan sehat; hidup aman dan tentram.

4. Suka berbuat kebajikan:
Sering berbuat alam dan mengumpulkan pahala.

5. Meninggal dengan tenang:
Saat ajal tiba, tiada sesuatu yang dikuatirkan dalam hati dan meninggal dunia dengan tenang.

Yang terpenting dari lima keberuntungan ialah suka berbuat kebajikan.
Karena kebajikan adalah sebab dari keberuntungan,
dan keberuntungan adalah buah hasil dari kebajikan.

Dari semua perbuatan baik, yang terutama adalah berbakti kepada orang tua.

Bila kita berbakti kepada orang tua, kakek dan nenek,
maka pasti dapat terhindar dari kemalangan dan menuju keberuntungan, lagipula dapat memperoleh pahala yang sukar dibayangkan (misterius, diluar dugaan).

Berbuat amal tidak selalu harus mengeluarkan uang.
Misalnya menyingkirkan batu di tengah jalan;
menyingkirkan kulit pisang agar orang tidak terpeleset;
menasehati suami istri yang kurang akur agar mereka berbaik kembali; bersikap ramah kepada sesama;
menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab;
menasehati orang agar berbuat amal dan sebagainya pun merupakan perbuatan amal.

Orang pintar tahu tentang makna
"Tahu diri dan puas atas apa yang telah diperolehnya",
menerima sesuatu yang tidak dapat dihindarinya,
tidak memaksa diri untuk mencapai ambisinya;
juga tidak iri atau mengagumi orang lain,
dia rela hidup sederhana.

Bagi orang yang lebih pintar lagi, dia sadar bahwa semua yang menimpa dirinya sekarang adalah dosa berat di masa hidup lalu, maka dia menjunjung tinggi Ajaran Agama, dia sendiri berusaha bertobat, dan sedapat mungkin berbuat amal, agar menghapus dosa masa lalunya, supaya 'nasib baik' lebih cepat datang.

Bila Anda merasa hidup masa kini cukup menyenangkan, maka Anda harus lebih menjunjung tinggi Ajaran Agama, konsentrasi dalam membaca doa-doa agamanya, berbuat amal sedapat mungkin, agar nasib baik Anda tidak putus dan terus berlanjut.

Sebab semua ini adalah buah hasil dari perbuatan bersedekah, menjunjung tinggi ajaran agama dan dengan tulus membaca doa-doa Agamanya di masa hidup yang lalu.

"Jika ingin tahu apa yang telah dilakukan pada masa hidup lalu (sebagai sebab), maka lihat saja apa yang telah diterima pada masa hidup kini; jika ingin tahu apa buah hasil yang akan dipetik pada masa hidup berikutnya, maka lihat saja apa yang telah dilakukan sekarang."
Baca Selengkapnya ... »»  

ASURANSI DARI SANG GURU


Dahulu kala, di desa Dochilin – India, ada seorang wanita tua yang miskin dan hidup sebatang kara. Wanita tua itu sangat berharap dapat merubah kehidupannya, tapi ia tidka mempunyai kepandaian apa‐apa. Akhirnya ia memutuskan untuk menjual susu sapi agar mendapatkan uang. Setiap hari ia pergi ke tempat pemerhan susu sapi untuk membeli susu lalu menjualnya kepada orang‐orang.

Tetapi, secara diam‐diam ia mencampurkan air ke dalam susu sapi segar tersebut agar mendapatkan susu yang lebih banyak sehingga akan mendapatkan susu yang lebih banyak sehingga akan mendapatkan uang yang lebih banyak pula.

Setiap orang yang meminum susu sapi segar yang dibeli dari wanita tua itu selalu merasa bahwa rasa susunya tersebut sedikit aneh, tapi tidak satupun yang curiga bahwa wanita tua itu telah berbuat curang.

Suatu hari, seorang kakek tua yang sering membeli susu pada wanita tua tersebut bertanya: “Nenek, susu yang saya beli disini ada rasa airnya, mengapa bisa begitu?”
“Jangan sembarangan bicara, susu yang saya jual ini berasal dari hasil perahan sapi putih yang paling mahal, sapi putih biasanya digunakan untuk p‐ersembahan kepada dewa langit, sehingga tentu saja rasa susu sapi ini ada bedanya dibandingkan dengan rasa susu sapi biasa. Ini sangat masuk akal: Demikianlah, dengan mudah dibohonginya kakek itu.

Setelah mendengar Penjelasan dari wanita tua, si kakek sangat mempercayainya. Lalu disebarkannya berita tentang susu sapi putih tersebut kepada setiap orang. Sejak adanya berita itu, hasil penjualan susu sapi segar si wanita tua semakin banyak. Beberapa tahun kemudian, kehidupan wanita tua itu sudah berubah dratis, karena ia mendapatkan banyak uang dari hasil penjualannya yang tidak 100% halal.
Dengan tabungannya, wanita tua itu membeli anting‐anting berlian yang sangat diidam‐idamkannya.

Ia sangat menyayangi anting berlian tersebut karena baru dapat dibelinya setelah ia menabung selama bertahun‐tahun, yang semuanya didapatinya dari hasil jerih payah dan kebohongannya yang dilakukannya selama ini.

Suatu hari, wanita tua itu pergi ke desa lain untuk mengunjunginya temannya dan sekaligus untuk memamerkan kekayaannya. Tentu saja ia memakai anting berlian kesayangannya itu. Dalam perjalanan pulang ia harus melewati sebuah sungai kecil. Wanita tua takut anting‐antinnya terjatuh, maka dilepaskannya anting tersebut dan dibungkusnya dengan sapu tangan kemudian digengamnya dengan erat. Wanita tua sudah merasa sangat aman. Namun sayang, ia tidak mengetahui bahwa batu‐batu kecil yang ada di dalam sungai itu ditumbuhi lumut hijau yang sangat licin.

Sekali injak, wanita tua itu hampir jatuh dan dalam keadaan tersebut, tanpa disengaja dilepaskannya anting‐anting berlian dari genggamannya.Arus sungai sangat deras dan langit pun mulai gelap. Wanita tua itu menangis tersedu‐sedu dipinggir sungai.

Saat itu, seorang pertapa yang tinggal di pegunungan Himalaya sedang menuju ke arahnya. Pertapa itu telah mencapai tingkat arahat dan sangat dihormati oleh penduduk desa.

Melihat pertapa itu, langsung saja wanita tua meminta tolong dicarikan anting berliannya yang hanyut. “Terima kasih, pertapa sudi datang kesini. Tolonglah saya, saya membeli anting itu dengan uang simpanan saya yang diperoleh dengan susah payah, tapi akhirnya jatuh ke sungai, jadi tolong bantu saya mencarinya kembali”.

“Wanita tua yang malang, anting‐anting anda telah kembali ke asalnya, yang yang anda terima adalah hasil dari penjualan air, oleh sebab itu anting‐antingmu telah kembali menjadi air”.

Setelah mendengar perkataan pertapa itu, wanita tua merasa ketakutan dan berkata:
“Maafkanlah saya, saya hidup seorang diri, demi kelangsungan hidup maka saya berbuat demikian. Sekarang saya sadar akan kesalahan saya, tapi apa yang harus saya perbuat?”
“Wanita tua, dulu anda mencampurkan air secara diam‐diam ke dalam susu, maka kini kamu pun harus berbuat kebaikan secara diam‐diam. Mulai hari ini anda tidak boleh berbohong lagi dan terhadap setiap orang harus saling tolong‐menolong. Demikian simpanan yang kamu miliki tidak akan hilang bahkan semuanya akan disimpan dalam asuransi dari Sang Guru yang biar bagaimanapun tidak akan hilang”.

Sejak itu, wanita tua telah berubah dan menjadi penduduk desa yang baik hati. Setiap hari membantu orang desa menyapu jalan, membantu menjaga anak, menjaga orang sakit, yang semuanya dilakukan dengan tulus, tanpa menerima apapun. Ia tidak pernah mengeluh atau berkomentar yang buruk, bahkan semuanya dilakukan dengan perasaan gembira, karena dalam hatinya hanya ada satu “Asuransi dari Sang Guru”.

Penduduk desa telah mengetahui dan menyadari kebaikan wanita tua itu. Sebagai tanda terima kasih maka semua penduduk desa mengumpulkan dana untuk membangun sebuah rumah yang akan dihadiahkan kepada si wanita tua. Sehingga sejak itu, wanita tua tidak perlu bekerja keras lagi.
Baca Selengkapnya ... »»  

KISAH SUARA YANG PALING INDAH


Seorang tua yang tidak berpendidikan berniat mengunjungi suatu kotabesar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan disebuah dusun terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya dan sekarang menikmat
i kunjungan pertamanya ke rumah anaknya yang modern.Suatu hari, sewaktu berjalan-jalan seputar kota, si orang tua mendengar suara yang menyakitkan telinga.

Belum pernah dia mendengarsuara yang begitu tidak enak didengar di dusunnya yang sepi dan dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut. Mengikuti arah suara yang menggangu itu ke sumbernya, dia melihat sebuah ruangan di dalam sebuah rumah, di mana terdapat seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.

"Ngiiiik! Ngoook!" berasal dari nada sumbang biola tersebut.

Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan "biola",dia berpikir bahwa dia tidak akan pernah mau lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut.

Hari berikutnya, di bagian lain kota tersebut, si orang tua ini kembali mendengar sebuah suara yang mendayu-dayu membelai-belai telinga tuanya. Dia tidak pernah mendengar melodi yang begitu indah didusunnya, diapun mencoba mencari sumber suara tersebut. Sampai kesumbernya, dia melihat sebuah ruangan depan sebuah rumah, di mana seorang wanita tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.

Seketika, si orang tua ini menyadari kesalahannya. Suara tidak mengenakkan telinga yang didengarnya dulu bukanlah merupakan kesalahan dari sang biola, bukan pula salah sang anak.

Itu hanyalah proses belajar seorang anak untuk bisa memainkan biolanya dengan baik.Dari pemikirannya yang sederhana muncullah sebuah kebijaksanaan, siorang tua mulai berpikir demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu menemukan seseorang religius yang "bersemangat" (baca: fanatik) terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya.

Itu hanyalah proses belajar sang pemula untuk bisa "memainkan" agamanya dengan baik.

Sewaktu kita bertemu dengan seorang suci, seorang maestro agamanya,merupakan sebuah penemuan indah yang memberi inspirasi kepada kita untuk bertahun-tahun, apapun agama mereka.

Namun ini bukanlah akhir dari cerita.

Hari ketiga, di bagian lain dari kota tersebut, si orang tua mendengar sebuah suara lain yang bahkan melebihi keindahan dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut anda, suara apakah itu?

Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan, melebihi indahnya suara angin di musim gugur di sebuah hutan, melebihi suara burung-burung pegunungan yang bernyanyi setelah hujan lebat.

Bahkan melebihi keindahan keheningan pegunungan yang damai di musim salju pada malam hari. Suara apakah yang telah menggerakkan hati si orang tua melebihi apapun itu?

Itulah suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni .Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, Pertama, seluruh anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing; dan Kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni.

"Mungkin ini sama dengan agama," si orang tua berpikir.

"Marilah kita semua belajar dari pelajaran-pelajaran kehidupan dalam inti kesejukkan kepercayaan kita masing-masing.

Marilah kita semua menjadi maestro dalam cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu,setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain seperti halnya anggota sebuah orkestra,bersama-sama hidup berdampingan dengan agama lain, dalam sebuah harmoni kehidupan !"
Baca Selengkapnya ... »»  

KISAH DI SURGA BERSAMA SAHABAT


Seorang lelaki tua dan kudanya sedang berjalan-jalan di sebuah jalan desa,menikmati pemandangan.

Tiba-tiba ia tersadar bahwa ia baru saja meninggal dunia. Ia pun ingat di saat meregang nyawa, kudanya yang telah menemani hidupnya selama ini juga telah meninggal. Kini mereka bersama-sama berada disebuah alam baka.

Setelah berjalan bersama sekian lama, mereka tiba di sebuah bukit. Sepanjang sisi jalannya berhiaskan batu pualam yang indah. Pada puncaknya berdiri sebuah patung indah dimana sinar matahari memendar dari balik patung itu. Ia terkagum melihat indahnya pintu gerbang yang terbuat dari permata dan mutiara, sedangkan jalan setapak menuju pintu gerbang tersusun dari emas murni.Ia senang sekali karena merasa akhirnya telah tiba di surga.

Kemudian sambil menuntun kudanya ia menuju pintu gerbang. Ketika dekat pintu gerbang ia melihat seseorang penjaga duduk di balik meja berukir indah. Ia menyapa orang tersebut, "Maafkan saya, apakah ini surga?"

"Ya, benar sekali tuan," jawab penjaga gerbang.

"Waw, kalau begitu bolehkah saya meminta sedikit air?" pinta lelaki tua itu.

"Tentu saja, tuan. Silakan masuk dan ambillah air minum sepuas anda."Kemudian penjaga gerbang itu memberi isyarat dengan ibu jarinya, dan pintu gerbang yang besar itu pun perlahan-lahan terbuka.

"Bolehkah saya mengajak sahabat saya ini masuk?" pinta lelaki tua itu sambil menunjuk pada kudanya.

Tetapi penjaga gerbang menjawab, "Maaf sekali tuan, kami tidak membolehkan hewan peliharan masuk."Lelaki tua itu berpikir sejenak lalu mengucapkan terima kasih pada penjaga gerbang itu. Mereka berbalik dan melanjutkan perjalanannya kembali.

Setelah lama berjalan mereka tiba di sebuah bukit yang lain, tetapi kali ini jalannya lebih kotor, di ujung jalan terbuka sebuah pintu gerbang pertanian.Tidak ada pagar di sisi jalan, rumput tumbuh sembarangan, pintu gerbang itu tampaknya tak pernah tertutup. Ketika ia berada dekat pintu gerbnag itu, didalamnya ia melihat seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi goyang dibawah bayangan pohon dan sedang membaca buku.

"Permisi tuan!" teriak lelaki tua itu pada pembaca buku. "Apakah anda mempunyai air untuk kami minum?"

"Tentu saja. Ada pompa air di sebelah sana," sahut pembaca buku itu sambi lmenunjuk ke sebuah tempat yang tak tampak dari luar gerbang.

"Masuklah,anggap saja rumahmu sendiri."

"Bagaimana dengan temanku ini?" tanya lelaki tua itu. Ia menunjuk pada kudanya."Oh, ia boleh masuk.

Kami mempunyai mangkuk air di sebelah pompa itu,"jawabnya.Kemudian mereka masuk ke dalam gerbang, dan menemukan sebuah pompa tangan tua dengan sebuah gayung dan mangkuk tergeletak di sampingnya. Lelaki tuai tu mengisi mangkuk dengan air hingga penuh dan memberikan pada kudanya.

Setelah itu ia meneguk air untuk mengobati hausnya sendiri.Ketika mereka sudah cukup minum, mereka kembali menemui pembaca buku ituyang tampaknya sedang menunggu mereka.

Lelaki tua itu bertanya, "Tempat apakah ini?""Ini surga," jawab pembaca buku itu."Wah, ini sangat membingungkan kami," kata lelaki tua itu.

"Tempat ini sama sekali tak seperti surga. Di ujung jalan di sebelah sana ada seseorang yang mengatakan bahwa bukit itulah yang surga."

"Oh, apakah yang anda maksudkan adalah bukit dengan jalan yang terbuat dari emas dan pintu gerbang yang terbuat dari permata itu?" tanya pembaca buku.

"Ya, bukankah itu tempat yang sangat indah."

"Bukan, itu adalah neraka."

"Tidakkah anda salah menyebutnya sebagai neraka tempat yang indah seperti itu?"

"Tidak. Saya mengerti mengapa anda berpendapat demikian, tetapi bukanlah seperti itu.

Keindahan yang ditampakkannya itu menipu sehingga membuat orang tega meninggalkan sahabat terbaiknya dalam penderitaan.

RENUNGAN:

Tak perlu memperdebatkan konsep surga neraka dalam cerita di atas, namun pesan yang ingin disampaikannya.

Keindahan sering kali hanya ilusi yang membuat kita membiarkan sahabat-sahabat kita berada dalam penderitaan.
Baca Selengkapnya ... »»  

SEBENARNYA MANUSIA MENGATUR ATAU DIATUR?


manusia mengatur atau diatur? maksud dari kalimat ini adalah manusia mengatur jalan hidupnya sendiri? mengatur arah hidup,prilaku,hingga mendapat hasil atas apa yang dia lakukan? atau SEMUA itu diatur oleh Tuhan?

contoh>
memilih dan menentukan istri/suami.
memilih profesi.(pedagang,pegawai,preman,perampok dsb)
memilih punya anak 1,2,3 dst.
memilih agama serta alirannya.
memilih gaya rambut,model pakaian,dan acesorisnya.
memilih jadi perokok,peminum alkohol,konsumsi narkoba(ganja,sabu2,pil koplo dsb).
memilih hidup teratur, gaya hidup bebas atau free sex..
memilih jenis olah raga senam,joging,petinju.dsb.
memilih rajin atau malas,sabar atau pemarah.irit atau boros.
memilih alat transpotasi saat bepergian(darat laut atau udara).
dan masih banyak2 sekali MEMILIH yang lain. pertanyaannya apakah MEMILIH disini adalah HAK manusia secara mutlak??? atau diatur dan diarahkan oleh Tuhan???
kenapa perlu di pertanyakan?? karena semua pilihan/memilih diatas akan SANGAT berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya,semua pilihan pasti mempunyai efec dan resiko untung rugi nya, secara logika hukum,semua resiko untung rugi nya HARUS ditanggung oleh yang menentukan pilihan(manusia atau Tuhan)
kalau pilihan itu ditentukan oleh manusia ,maka konsekuensinya segala akibat dan resikonya adalah tanggung jawab manusia. sebaliknya bila pilihan itu atas aturan ,arahan atau bagian dalam RENCANA Tuhan,maka yang bertanggung jawab adalah Tuhan,karena konon bila Tuhan mempunyai kehendak maka manusia tak akan kuasa menolaknya.

jadi posisi manusia sebenarnya adalah sebagai pengatur atau sebagai yang diatur??

JAWAB:
Maaf kan saya baru bisa mengutarakan pendapat , tentu saja pendapat saya bisa berbeda satu sama lain , menurut keyakinan masing .
Secara sains jawabannya
"Tuhan tidak ada mengatur manusia" .
Kehidupan di alam semesta ini berjalan berdasarkan bahan-bahan dasar dan hukum-hukum dasar.
Dari hal yang mendasar ini berevolusi menjadi serumit ini.
Para fisikawan teoritis mulai menyadari bahwa seandainya bahan dasar alam semesta ini bukan seperti ini, maka mungkin alur evolusinya pun akan berbeda pula.
Hukum-hukum fisikanya dan theologinyapun akan berbeda pula.
Yang jelas dan bisa dibuktikan adalah akhir dari suatu bentuk kehidupan adalah kematian.
Dimana ada kelahiran pasti ada kematian.

Namun demikian, sekalipun kehidupan ini tidak punya tujuan yang definitif, pasti dan jelas, tidak berarti kita harus jadi murung dan meniti kehidupan ini dengan tanpa arah.
Ambilah suatu tujuan untuk dicapai dalam hidup ini.
- Jikalau mau jadi seorang filsuf, ya jadilah.
- ingin jadi pelaku bisnis seperti Donald Trump, ya jadilah.
- ingin hidup senang senang saja seperti Donald Duck, ya jadilah.

Adalah penting untuk memiliki tujuan dalam hidup.
Dengan memiliki tujuan dalam hidup kita memiliki arahan untuk dicapai dan diusahakan.
Dan itu sehat.
Yang berbahaya adalah apabila tujuan dalam hidup ini diarahkan untuk mencapai suatu keadaan dimana anda bahagia, di atas ketidak bahagiaan orang lain.

Dan harus diingat, bahwa tujuan dalam hidup itu sendiri tidak berkonotasi langsung dengan kebahagiaan.
Ya tepatnya, tentu berdasarkan modal-modal kapasitas dan kapabilitas yang kita miliki.
Dan kita yang memilih perasaan dalam diri kita sendiri entah itu bahagia atau bahagia terlepas dari punya atau tidak punya?

Dalam keyakinan akan adanya tuhan yang maha kuasa yang telah menciptakan alam semesta dan mengatursebelum segala jaman, kemudian menuliskan cetak biru naskah kehidupan di alam ini, dimana segalanya telah teratur dalam hokum yang rapih.
Kita hanya memiliki kehendak bebas untuk mematuhi atau tidak rencana tuhan atas hidup kita itu.

Kalau anda menganggap semua itu benar dan bermakna dalam hidup anda ya silahkan.
Tapi benar atau tidaknya keyakinan tersebut – adalah hal yang lain.
Sebab keyakinan seperti itu sangat rentan dengan berbagai kritik.
Saya hanya akan menuliskan dua hal saja yang menegasikan keyakinan itu.

Pertama:
Keyakinan yang sebut tadi itu memproyeksikan suatu tuhan yang raja tega, bebal, tidak beretika, bodoh dan sewenang-wenang.
Lihatlah sejarah peradaban manusia yang penuh dengan tangisan, dan pertumpahan darah.
Diatas semua kejadian yang memilukan hati ini, justru kita lihat bahwa agama2 besar yang mengagung-agungkan suatu tuhan berpribadi, yang terlepas dari alam, justru bermain dalam kekerasan itu.
Lihatlah peperangan dan ketegangan2 antar Agama , Benarkah tuhan itu maha kasih?
maha mengetahui?  maha segalanya? 

Ketika bom diledakan dimana-mana,Dimanakah Tuhan berada?
Koq dia tidak menangis? Sungguh-sungguh raja tega tuhan yang diproyeksikan agama samawi ini.

Kedua :
Keyakinan bahwa ada suatu rencana sempurna dari tuhan yang kekal abadi, yang diciptakan segala jaman, menjadikan si pemercaya seorang yang neurosis.
Setiap hal terus dicross-check dengan hukum-hukum yang tidak kelihatan itu.
Ia takut apabila ia melenceng dari rencana tuhan yang sempurna itu.
Padahal tuhan sendiri tidak pernah berteriak-teriak dari langit,
Pernahkah tuhan teriak2 seperti itu?
Tidak pernah bukan?

Seperti yang saya tulis di atas, bahwa kisah-kisah agama dan konsep-konsep keyakinan adalah perwujudan symbol-symbol psikologis pencarian makna hidup dalam tataran arketype kesadaran manusia itu sendiri?
Konsep tuhan adalah penubuhan dari idea-idea tentang sumber, kesegalaan dan kesempurnaan.
Konsep tentang Bunda Maria adalah penubuhan dari idea-idea pengayoman dan kelembutan.
Konsep Jibril adalah penubuhan dari mediasi / duta antara sumber dengan cabangnya.
Konsep Kristus adalah penubuhan idea-idea satrio piningit / mesias dari budaya Israel dan lain sebagainya .
Semua idea tersebut adalah getaran refleksif dari alam nirsadar untuk ditangkap oleh alam sadar kita.
Dalam upaya untuk membahasakan ‘bahasa’ refleksif itu maka diwujudkanlah simbol-simbol yang kita temukan dalam agama-agama, such as, tuhan, jibril, bunda maria, kristus, Muhammad, Buddha dan lain lain.
Tanpa perlu memusingkan ada atau tidaknya tokoh2 di atas.

Mengapa alam sadar kita menerima isyarat-isyarat refleksif dari alam bawah sadar?
Bagi Carl Gustav Jung, seorang psiko-analis abad 19- 20, karena kita, manusia, terlahir dengan keadaan ‘terbelah’, keadaan sadar yang terbelah ini tanpa sadar terus menerus mencari pemenuhannya.
Hasrat pemenuhan ini sendiri diransang oleh idea-idea dalam yang tersimpan dalam alam bawah sadar kita.

Berbeda dengan Sigmund Freud yang mempercayai alam bawah sadar sebagai tempat dimana hasrat-hasrat hidup /libidinal direpresi, bagi CG Jung alam bawah sadar adalah kesadaran kolektif, dimana idea-idea pencarian makna hidup manusia itu tersimpan secara laten.
Bagaimana bawah sadar ini berkomunikasi dengan alam sadar adalah dengan cara libidinal dan refleksif.
Semua hasrat dalam diri kita adalah hasrat untuk bertahan hidup.
Hasrat-hasrat yang dipenuhi akan hilang dengan sendirinya.
Namun apa bila hasrat itu tidak terpenuhi, maka suatu saat alam nirsadar mengirim pesan-pesan berupa imagi kepada si alam sadar dalam bentuk mimpi.

Sedang lewat refleksif alam bawah sadar ini mengirim idea-idea yang diterima oleh alam sadar sebagai suatu yang harus digali, semacam idea kesempurnaan, keagungan, estetika, keabadian dll. Kesadaran kolektif ini menjadi sumber inspirasi dari pencarian manusia akan idea-idea spiritualitas, estetika, pencarian makna hidup dan sebagai nya .

Jadi singkatnya agama dan segala idea di dalamnya adalah penubuhan dari gejolak-gejolak bawah sadar yang harus dikelola dengan baik oleh sang sadar tadi, karena tidak semuanya gejolak itu baik, atau tidak semuanya gejolak itu buruk.
Idea tentang kesempurnaan, keteraturan, dan keabadian, diwujudkan dalam seni musik gambar, cerita, abstraksi-abstraksi idea dan lain lain.
Maka terbentuklah mitos-mitos tuhan, kisah-kisah asal muasal kehidupan, kisah-kisah setelah kehidupan, keabadian dan sebagainya .
Hal-hal tersebut dikelola oleh para pujangga dan rohaniwan jaman dulu menjadi mitos-mitos yang oleh agama dijadikan standar baku yang tidak boleh diotak-atik dan dikritik karena dipercaya sempurna dan tiada cacat.

Jadi , singkatnya, silahkan anda percayai teologia agama anda, kalau itu bermanfaat dan memperkembangkan kepribadian anda.
Namun apabila anda menjadikannya sebagai kebenaran factual maka anda tidak ubahnya dengan seorang yang memiliki masalah keterbelahan jiwa, yang disebut skizofrenis.
Seorang skizofrenis hidup dalam dua atau tiga atau lebih dunia yang dia anggap ajeg dan real.
Dan memang demikianlah orang yang selama ini menganggap agama sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa disanggah.
Mereka seperti skizofrenis yang kesehariannya hidup di jaman modern yang logis dan rasional, tapi otaknya masih dipenuhi dengan khayalan-khayalan agama yang dianggapnya sebagai benar, menyejarah dan pasti tidak pernah salah.
Kalaupun sains membuktikan kesalahan kisah-kisah agamanya, mereka tetap percaya bahwa tuhannya maha kuasa dan sainslah yang salah.

Bagaimana mungkin kisah-kisah tentang tuhan dan nabi-nabi dalam agama-agama bisa dibuktikan sebagai yang benar?
Keyakinan adanya tuhan yang berfirman ini itu pada seorang nabi lewat perantaraan jibril atau malaikat manapun, bagi saya adalah mitos.
Sebab kalau diminta supaya jibril hadir dan bersaksi bahwa dia benar-benar pernah muncul dan menitipkan firman pada si nabi itu, pasti dia tidak akan pernah muncul.
Kenapa?
Lha memang dia tokoh fiktif koq.
Mau mengharapkan kemunculan macam apa dari tokoh fiktif?

Rekan ku hidup ini sukar.

Namun yang lebih repot lagi ketika hidup yang sukar ini harus terus menerus disingkron-singkronkan dengan seperangkat hukum tidak nyata yang dibentuk oleh komunitas dan agama, tanpa persetujuan dari kita, dimana kita ditempatkan pada suatu posisi yang tidak bisa menganalisa dan memilah dan memilih seturut dengan kesadaran kita.
Saya mendorong rekan rekan untuk berani mempertanyakan semua itu dan berani untuk menilai baik buruknya menurut sendiri.

Hukum moral itu perlu , namun bukan yang dikenakan dari luar kepada kita, melainkan dari dalam kesadaran diri kita sendiri.
Tentu saja prinsip ini baiknya untuk mereka yang sudah dewasa, bukan manusia-manusia dengan peradaban yang masih kasar.

Baiknya bagaimana menjalani hidup ini?
Ya apa adanya saja.
Tidak perlu terus dalam keadaan tegang menganalisa diri sendiri,
menuduh-nuduh apakah kita sudah hidup seturut dengan rencana tuhan atau bukan,
lha wong si tuhan juga tidak bicara apa-apa koq.
Lihatlah bahwa dunia ini indah, dan kesempatan untuk kita hidup sebagaimana kita adanya saat ini tidak mungkin datang dua kali.

Buatlah hidup kita merasa bahagia kini dan di sini, dalam apa adanya hidup kita.
Baca Selengkapnya ... »»  

Kisah ketika Kita bisa memilih hidup kita sekali lagi


Alkisah, Tuhan hampir setiap saat mendengar keluh kesah, ketidakpuasan, dan penderitaan dari manusia ataupun dari makhluk lain ciptaan-Nya. Kemudian, Tuhan ingin sekali tahu bagaimana jika semua makhluk tersebut diberi kesempatan memilih hidup sekali lagi; ingin menjadi apakah masing-masing dari mereka? Maka, Ia membagikan pertanyaan kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Tikus dengan cepat menjawab, “Jika diberi kesempatan memilih, aku ingin menjadi kucing. Enak ya jadi kucing, bisa bebas merdeka berada di dapur bahkan disediakan makanan, susu, dan dielus-elus oleh manusia.”

Kucing pun dengan sigap menjawab, “Kalau bisa memilih, aku ingin jadi tikus. Kepandaian tikus mengelilingi lorong-lorong rumah bisa membuat orang serumah kewalahan. Tikus bisa mencuri makanan yang tidak bisa aku santap. Hebat sekali menjadi seekor tikus.”

Saat pertanyaan yang sama disampaikan ke ayam, begini jawabnya, “Aku ingin menjadi seekor elang. Lihatlah elang di atas sana! Wah, ia tampak begitu perkasa mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa luas, membuat semua makhluk iri dan ingin menjadi seperti dirinya. Tidak seperti diriku, setiap hari mengais makanan, terkurung dan tidak memiliki kebebasan sama sekali.”

Sebaliknya, si elang segera menjawab, “Aku mau menjadi seekor ayam. Ayam tidak perlu bersusah payah terbang kesana-kemari untuk mencari mangsa. Setiap hari sudah disediakan makanan oleh petani, diberi suntikan untuk mencegah penyakit, dan ayam begitu terlindung di dalam kandang yang nyaman, bebas dari hujan dan panas.”

Beda lagi jawaban yang diberikan oleh manusia. Si perempuan menjawab, “Saya ingin menjadi seorang laki-laki, kemudian menjadi pemimpin besar dan yang hebat! Menjadi perempuan sangatlah menderita. Harus bisa melayani, bertarung nyawa melahirkan anak, kemudian membesarkan mereka. Ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.”

Tapi laki-laki menjawab, “Aku mau jadi perempuan. Betapa indah rupanya dan halus budi bahasanya. Kelihatannya, ia selalu disayang, dilindungi dan dimanjakan. Selain itu, tidak ada pahlawan yang lahir tanpa seorang perempuan. Surga saja ada di telapak kaki ibu atau wanita.”

Setelah mendengar semua jawaban para mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pun memutuskan tidak memberi kesempatan untuk memilih lagi. Alias, setiap makhluk akan kembali menjadi makhluk yang sama.

Pepatah mengatakan, “Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan dengan rumput di kebun sendiri.” Manusia selalu memikirkan kelebihan, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain sehingga mengabaikan apa yang sudah dimilikinya. Membandingkan diri dengan orang lain, secara terus-menerus, bisa membuat hidup kita menderita. Padahal orang yang kita pikirkan mungkin berpikir sebaliknya!

Mampu menerima dan bersyukur apa adanya atas apapun yang kita miliki adalah kebijaksanaan. Bisa ikut berbahagia melihatkebahagiaan dan kesuksesan orang lain adalah kekayaaan mental.

Be your self! Jadilah diri Anda sendiri! Mari mencintai apa yang kita miliki; maka hidup kita pasti akan penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Setuju?
Baca Selengkapnya ... »»  

Kisah 7 Daun Teh


Pada jaman dahulu, seorang dokter dipenjarakan secara tidak adil oleh Kaisar. Setelah beberapa minggu, keluarganya diijinkan menengoknya. Mereka begitu sedih, melihat pakaiannya compang-camping, makanannya tiap hari hanya sepotong roti dan secangkir air.

Namun isteri dokter ini heran dan bertanya, "Bagaimana mungkin kamu kelihatan begitu sehat?" Kamu tampak seperti seseorang yang baru datang dari suatu pesta pernikahan."

Dokter itu tersenyum. Ia mengatakan, ia menemukan sejenis teh yang mujarab untuk melawan penderitaan dan kesedihan. Teh itu terdiri dari 7 macam daun-daunan sebagai berikut:

DAUN PERTAMA sebut saja "Kepuasan".

Puaslah dengan apa yang kau punyai. Aku memang kedinginan dalam pakaian rombengku, kala mengunyah serpihan-serpihan roti keringku. Tetapi seharusnya kondisiku jauh lebih buruk seandainya Kaisar melemparkan aku dalam keadaan telanjang ke sebuah penjara dibawah tanah tanpa makanan sama sekali.

DAUN KEDUA sebut saja "Akal Sehat".

Gembira atau sedih, aku tetap di penjara, mengapa harus mengeluh ?

DAUN KETIGA adalah "Kenangan akan dosa-dosa lama".

Hitunglah itu dan atas perkiraan bahwa setiap dosa patut mendapat ganjaran penjara 1 hari, hitunglah berapa lama harus kita jalani dalam penjara. Apa yang aku alami tidak seberapa.

DAUN KEEMPAT ialah "Ingatan akan kesedihan yang ditanggung dengan gembira bagi kita".

Bila satu-satunya orang yang pernah dapat memilih nasibnya di bumi, memilih penderitaan, nilai luar biasa apa yang pasti dilihat-Nya didalamnya. Karena itu, kita yakin, penderitaan yang kita tanggung dengan tenang dan penuh gembira menebus dosa-dosa kita.

DAUN KELIMA
ialah "Pengetahuan bahwa penderitaan yang diberikan kepada kita oleh Tuhan seperti dari seorang ayah, tidak untuk merugikan kita, tetapi untuk membersihkan dan menyucikan kita".
Penderitaan yang kita lalui mempunyai tujuan untuk memurnikan kita dan menyediakan kita masuk Surga.

DAUN KEENAM merupakan "Pengetahuan bahwa tak ada penderitaan yang dapat merugikan kehidupan kita."

Bila kesenangan daging merupakan segalanya, maka sakit dan penjara mengakhiri tujuan hidup seseorang. Tetapi bila sumber kehidupan adalah kebenaran, maka penjara tidak dapat menghentikan aku dari mencintai, untuk percaya dan selalu hidup tenang di mana pun aku berada.

DAUN KETUJUH merupakan "harapan".

Roda kehidupan tidak selamanya akan meletakkan dokter di penjara, mungkin dia akan kembali ke istana dan bahkan kemungkinan duduk di singgasana kerajaan.
Baca Selengkapnya ... »»  

Where I Finding God?


Ada seorang murid bertanya kepada gurunya tentang Tuhan.

Murid : Guru, ada ditempat lain orang yg bisa terbang.
Guru : Tak aneh, lalat juga bisa terbang.

Murid : Guru, ada orang yg berjalan di atas air.
Guru : Tak aneh, katak juga jalannya di atas air.

Murid : Guru .... ada orang yg bisa berada dibeberapa tempat sekaligus.
Guru : Yg paling pintar spt itu setan. Dia bisa berada dihati jutaan manusia dalam waktu bersamaan.

Murid : Kalau begitu guru, bagaimana cara yg paling cepat mendekatkan diri pada Tuhan? Apakah orang yg dekat kepada Tuhan memiliki berbagai keajaiban, kekuatan supranatural?

Guru : Itu bukan "Ukuran". Ukuran seseorang dekat dgn Tuhan bukan itu. Banyak jalan mendekati Tuhan, sebanyak udara di bumi ini..
Tetapi jalan yg paling dekat dgn Tuhan adalah membahagiakan orang lain disekitarmu.

Tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan, dan tugas paling sulit dalam hidup adalah.... "belajar untuk sabar".
Baca Selengkapnya ... »»  

Jalanlah maju tiga langkah, lalu mundur tiga langkah.



Seorang pria sedang berjalan-jalan di tengah kota. Ia melihat seorang biksu Zen yang sedang berjalan, meminta sumbangan untuk kuilnya. Karena tertarik, pria ini menghampiri biksu tersebut.

'Hai biksu, kau sedang meminta sumbangan bukan? Baiklah, aku tidak akan memberikan sumbangan, tapi akan kubeli kebijaksanaan darimu. Bukankah biksu Zen terkenal dengan kebijaksanaannya?', kata pria tersebut. Si biksu terdiam sejenak, lalu berkata, 'boleh, tapi kebijaksanaanku sangatlah mahal. Sebuah nasihatku bernilai 100 tael perak'. Pria tersebut menjawab, 'tidak masalah, asalkan terbukti kata-katamu dapat membuatku lebih bijaksana'.

Maka si biksu memberi pria itu kata2 ini: 'setiap kali anda menghadapi permasalahan apapun juga, jangan terburu-buru mengambil tindakan. Jalanlah maju tiga langkah, lalu mundur tiga langkah. Lakukan ini sebanyak 3 kali (3 set), baru ambil tindakan terhadap permasalahanmu'. Pria tersebut sulit untuk percaya, 'hanya berjalan 3 langkah maju dan 3 langkah mundur selama 3 kali dapat membuatku lebih bijaksana? Aku tidak percaya'. Si biksu tersenyum, 'kalau begitu anda tidak perlu membayarku sekarang. Tunggu sampai kata-kataku terbukti baru anda membayarku. Kalau tidak terbukti, anda tidak berhutang apa2 padaku'. Pria tersebut senang, 'baiklah kalau begitu. Aku akan membuktikan kata2mu. Kalau ternyata terbukti, aku akan mencarimu untuk membayarmu', kata pria itu, lalu pamit dan pulang kerumahnya.

Sampai di rumah, pria itu mencari istrinya untuk menceritakan kejadian hari ini kepada istrinya. Pria itu masuk ke kamar tidurnya. Ternyata istrinya sedang tidur, dan alangkah kagetnya pria itu karena ternyata disamping istrinya ada tubuh lain yang berbaring tertutup selimut. Emosi pria ini memuncak karena istrinya selingkuh, dengan tidur dengan pria lain. Ia segera pergi ke dapur untuk mengambil golok dapur, dengan tujuan membunuh pria selingkuhan istrinya.

Ketika kembali ke kamar tidur, tiba2 ia teringat dengan kata2 si biksu zen tadi. Maka ia pun berjalan 3 langkah maju, 3 langkah mundur, sebanyak 3 kali. Tentu saja dengan perasaan yang sangat tidak sabar. Karena gerakannya yang tergesa2 menimbulkan bunyi berisik, istrinya terbangun. Istrinya pun kaget karena ada tubuh lain berbaring di ranjangnya, sedangkan suaminya sedang berdiri di samping ranjang. Spontan istrinya membuka selimutnya. Ternyata tubuh itu adalah adik kandung istrinya sendiri yang bermimpi buruk sehingga ketakutan dan menyelinap ke ranjang kakak perempuannya untuk tidur bersama.

Seketika pria tersebut jatuh terduduk dengan lemas. Goloknya pun terlepas dari tangannya. Dengan menangis, ia menceritakan segalanya termasuk rencananya membunuh tubuh yang dikira selingkuhan istrinya tersebut. Katanya, 'kalau aku tidak bertemu dengan biksu bijaksana tersebut di kota, entah bagaimana nasibku dan kamu'. Istrinya menenangkan suaminya dan berkata, 'tenanglah, yang belum terjadi tidak perlu dipermasalahkan. Besok kita harus mencari biksu itu kembali untuk memenuhi janjimu, membayar kebijaksanaan yang kau dapat ini'.

Esok harinya mereka berdua pergi mencari biksu tersebut di tengah kota. Begitu menemukannya, mereka berniat membayar biksu tersebut, tapi si biksu menolaknya sambil tertawa, 'kalau kalian menghindari perbuatan jahat, perbanyak perbuatan baik, dan senantiasa mawas diri, artinya kalian sudah membayarku....'
Baca Selengkapnya ... »»  

Menyikapi Dengan Bijak Terjadinya Takdir


Takdir adalah misteri kehidupan seseorang yang tidak dapat ditawar lagi, hanya bisa dijalani dengan lapang dada. Kalaupun ada upaya untuk merubah takdir dengan apa yang disebut oleh masyarakat dengan kata “diruwat” untuk membuang apes / sial, ataupun dibukakan pintu rejekinya, namun apakah benar hal itu dapat terwujud?.

Hal yang tidak dapat dipikirkan oleh manusia adalah resiko dari usaha-usaha merubah takdir tersebut. Mungkin sebelumnya kita pahami dulu sebuah prinsip alam semesta “Untuk memperoleh harus kehilangan, setelah kehilangan akan memperoleh”.

Takdir pada manusia adalah perjalanan hidup yang telah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Mulai dari kelahiran di keluarga yang bagaimana, bagaimana kondisi perekonomiannya, penyakit yang akan diderita, menikah dengan siapa, maupun mempunyai anak yang bagaimana, serta musibah atau penderitaan yang seperti apa.
 

Seorang anak tidak pernah bisa memilih orang tuanya, demikian juga orang tua tidak bisa memilih seorang anak, seperti yang dikehendaki. Semua telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Begitupun dengan jodoh, seolah-olah adalah kita yang memilih kepada siapa kita akan menyandarkan hidup.

Padahal bukan, kalau tidak ada perjodohan yang ditetapkan, biarpun bagaimana saling mencintai sehidup semati pun terkadang harus kandas di tengah jalan. Dan terkadang hal yang tidak dapat dinalar adalah pilihan kita itu justru menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicintai, yang juga secara fisik sangat jauh dari dambaannya, dan bahkan dalam perkimpoiannyapun penuh dengan perseteruan dendam kesumat.

Jika sesuatu tidak ada dalam takdir kehidupan anda, maka jika dengan paksa kita membuatnya ada, sebenarnya adalah kita telah merampas hak orang lain. Karena anda telah menjadi pihak yang diuntungkan maka lain kali anda harus membayar kerugian orang lain dengan suatu penderitaan dalam bentuk yang lain. Misalnya sakit, ketidak-bahagiaan, kehilangan materi dalam bentuk lain, rumah kebakaran, kecelakaan, anak sakit, kemalingan, pokoknya semua yang memaksa anda harus mengeluarkan uang dari simpanan anda, atau yang memaksa anda untuk menderita, karena anda telah menambah dosa anda.

Sedangkan pihak yang telah anda ambil haknya, karena dia telah menderita kerugian atas perbuatan anda, maka dia akan memperoleh pahala, yang hasil kebaikan yang telah anda kumpulkan (De atau substansi putih, pahala), diberikan kepadanya. Jika pahala yang diberikan oleh anda kepada dia ini tidak dapat dia peroleh di kehidupan sekarang, maka dia akan memperolehnya di kehidupan dia selanjutnya.

Takdir sesungguhnya adalah diciptakan dari banyak sedikitnya pahala atau dosa seseorang di kehidupan sebelumnya. Seseorang yang pahalanya banyak maka ditakdirkan menjadi pejabat, kaya raya, semuanya ada. Untuk seseorang yang pahalanya sedikit atau yang dosanya banyak maka ditakdirkan baginya kehidupan yang menderita baik secara materi maupun fisik, mungkin cacat, atau sakit berkepanjangan, dan bahkan untuk mencari makanpun sangat sulit.

Terciptanya takdir adalah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan dengan seadil-adilnya. Dengan pertimbangan dari banyak sedikitnya dosa atau pahala seseorang, juga benci dendam serta hutang budi yang ingin dilakukan oleh seseorang pada orang lain di kehidupan sebelumnya. Misalnya dikehidupan anda sebelumnya telah melakukan kejahatan yang menyebabkan dia begitu dendam dan ingin membalas perbuatan anda, maka oleh Tuhan diberikanlah kesempatan bagi dia untuk membalasnya agar anda membayar dosa anda sebagai tanggung jawab anda.

Itulah kenapa terkadang dalam kehidupan sehari-hari ada seseorang yang tanpa sebab begitu membenci kita mati-matian dan berusaha untuk selalui menyakiti bagaimanapun caranya, sedang kita bahkan merasa sama sekali benar-benar tidak pernah melakukan kesalahan padanya ataupun bahkan ketemu mungkin baru sekali. Semua ini adalah kemungkinan kita telah melakukan perbuatan yang juga sangat menyakiti dia, dikehidupan sebelumnya. Sekarang giliran kita yang harus membayar rasa sakit itu oleh perbuatan dia. Dalam ajaran aliran Buddha disebut karma bergilir. Kalau dulu orang tua berujar, jika seorang anak berani kepada orang tuanya,maka kelak dikehidupan anak tersebut juga akan diperlakukan hal yang sama oleh anaknya.

Masalah hutang budi pun oleh Tuhan, diberikan kesempatan bagi orang tersebut untuk membayar kebaikan yang dia telah peroleh kepada orang yang telah memberikan kebaikan tersebut. Mungkin selama ini kita belum mengerti kenapa ada orang yang begitu benci pada kita, tetapi kadang ada orang yang begitu baik dan selalu ingin menolong kita dengan sangat tulus, tanpa pamrih apapun, meskipun kita juga baru mengenal orang tersebut. Semua ini kemungkinan adalah karena kita telah memberikan kebaikan / budi kepada orang tersebut di kehidupan sebelumnya.

Dalam suatu keluarga kenapa seseorang mendapat seorang anak cacat bawaan lahir, atau kenapa seseorang menikah dengan si A dan bukan si B yang dia cintai dengan sepenuh hati, adalah karena hutang budi atau hutang karma kita sendiri di kehidupan kita sebelumnya.
 

Semua sebab dan alasan penentuan takdir atas diri seseorang, dilihat dari sejarah seseorang dari seluruh masa kehidupan yang telah dilalui, bukan tanpa sebab dan bukan suatu kebetulan Tuhan memberikan takdir bagus kepada si A atau takdir buruk kepada si B, itulah kenapa Tuhan disebut sebagai Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Oleh sebab itu takdir yang telah diberikan kepada kita untuk dijalani, maka jalani saja dengan wajar, jika kita mempunyai keterikatan yang sangat kuat untuk mengupayakan semua keinginan dan nafsu keduniawian kita agar terwujud, salah-salah kita hanya akan menambah dosa yang baru, dan itu berarti hanya akan menmbah penderitaan yang baru pula di kehidupan kita.

Lantas kemana kelak kita akan pergi setelah kematian kita ? Bukankah dalam agama juga selalu diajarkan untuk mengumpuilkan pahala dengan banyak berbuat baik, dan menghindari perbuatan buruk? Semua ini adalah untuk bekal penentuan takdir di kehidupan kita yang akan datang.
Baca Selengkapnya ... »»