sudahlah



seperti wangi tak mampu ku jamah hanya kunikmati
seperti cahaya tak mampu ku genggam namun terkadang membutakan
seperti angin..
seperti awan..
seperti udara..
seperti kekasihmu itu
yg sll kau snjungi dg cara2 yg mengagumkan.
krn km tau ia tak kan pernah berpaling dr mu
tdk demikian dgku
mengingatnya saja aku enggan
apalagi menyanjung dan mempuisikn namanya,
meski aku sadar ialah yg tiap hari menghidupiku
meski aku tau hidup matimu ada di genggamannya
ga jelas..
Baca Selengkapnya ... »»  

gerimis senja

gerimis senja
setelah deras meraja
gemericik di tanah2 basah
bersulam di temaram jingga
bergenang di awang kelam
meruak beraroma rindu
tercampur bening berkisah lalu
cerita tanpa kata
menari riang di atas bunga bakung
berlarian di tngah padang
bermain senyum2 itu pucuk ilalang
meruntai tawa di ranting cemara
hngga biasnya merona di ufuk tenggara
berbaur dg deburan angin selatan
memolesnya di jasad bulan yg msh layu
hemh...sungguh ini menyindirku
Baca Selengkapnya ... »»  

basahi aku

gemericik yg jatuh
beribu tetes tak terhitung
masih tak mampu ku serap
atau membekukan lamun yg dari siang meleleh
knp hnya redup yg mengangkasa di terawangku
mestinya ku riuh meraja
bermandi tawa
ato bernyanyi bersama riang rerumputan
malah mengikis rasaku dg keruhnya air buangan
knp tak pergi ke tengah padang mengais siramannya
ternyata aku tak punya nyali tuk menantang badai

16 april' 10
Baca Selengkapnya ... »»  

lamunan kosong

pucuk2 sendu melamun letih.tergelayut bisu.
trsekap kosong.mndurja kata.
mncakar langit2 awan brhrp sayatannya bs mnguak sbuah jwbn.
ato ada kilatan yg murka hngga ia dptkan sbuah terang.
di ujung2 mimpi terikat sbuah pesan.
tntang cemburu yg trsalib di dinding kamar.
nian kerdil tnp doa.
sjenak ku mngernyit di 1/3 akal
tnp gnggamn chya mncari tau.
di langit2 sepi itu. brsarang malaikat gubahn mlm.
hinggap tnp senyumn mncemooh ruang yg trdiam.
tatapnnya mnyeret ke
jalanan yg brdebu.

WC30/3/10
Baca Selengkapnya ... »»  

lihatlah

esok kian membunuh. waktu kian menjuru.
tawa terdiam bersaksi hitam.
redam pupus...meregang dendam.
dada bergulir menyingsing kelam.
tergetir bibir merejam keluh.
saat bunga2 anugrah
bergantian luruh
menjerit dijamahi ragu.

di labuhan itu...
semunya arti tanpa hiasan
pesan yg lugu kehilangan pesona.
terampas makna.
terbius kata
terhunus tanya
itu satu cerita
dari sekian berita
mereka penghuni lorong2 tak bermata
dan ku dengar engkau juga pernah mengenalnya.
Baca Selengkapnya ... »»  

tak pernah terjawab

rasa kian membusuk dijamahi waktu.
tak terdengarkah teriakan itu?
di semburat jingga atau saputan awan?
kenapa hanya diam?
atau memang terbiarkan membentur di tembok2 ratapan itu?
memercik dan remuk rejam.
bersanding sepenggal temaram yg kian redup di kerubuti badai.
meringkuk tak bernafsu di balik jeruji kemurungannya.
dan mulai renggang menggenggam janji saat semua tanya itu tak pernah terjawab
Baca Selengkapnya ... »»  

sejenak saja

ada jejak bibir telanjang berjelaga di kenangan itu.
seketika larung dlm detak2 lalu yg mencibir.
menjerang apa2 di arung senja.
sementara kening pekat gurat meredam peta rasa yg terlanjur biru.
bercampur gerimis hingga dentang malam nian merebakkan khas aroma itu.
di rantau dekap yg aku bisa.
aku coba meraut pd kanvas yg lain.
atau merumpun pada savana menikmati teduh sendunya.
hehe...kurasa lbh nikmat di atas bangku dg kaki telanjang bebas menghabiskan panasnya rokok dan kopi.
Baca Selengkapnya ... »»  

separuh de javu

senja kemarin.
separuh de javu.
atau kisah deras hujan di beranda rumah.
memetak batu2 berpuing lalu.
senja kemarin.
resap gerus tulang belulang.
menahun terkubur.
sesat senyap sesaat...
sesayup geliat belatung bermain di sebidang lobang.
mengemas semua cerita musim hujan
lekas kembali pulang.
sudahlah..
ga perlu dibahas
Baca Selengkapnya ... »»  

titik

saat langit tak bgtu tnggap pd catatan2ku.utk skian kalinya,,semestaku pun brgumam meraut makna.mlihat doa2 yg kerak mnghitam,kering trpanggang di padang ter asing. ribuan tetes air mata seakan tak mmpu mnghidupkannya kmbl tuk menemui takdirnya. aku mungkin msh blm bs mmbaca tulisan2ku sndri.atau tak sekhidmat rumput2,pasir2 yg henyak mntasbihkn namaMu.ak emg tak skuat phon cedar yg mmpu mnaklukkn smua musim.ak bkn ilalang yg mmpu hdup diats batu .ak jg bkn sufi yg bs melesakkan cahaya ke langit dg mudah.aku hanyalah debu di padang pasir...aku buih di lautan...aku percik di deras hujan...aku titik yg tak tahu kemanakah aku harus berada diantara ribuan kata
Baca Selengkapnya ... »»