Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Hikmah Sebuah Keikhlasan



Seorang pria berumur 61 tahun bernama Asep Sudrajat menghidupi keluarganya dengan membuka sebuah toko berukuran 3 x 4 meter di sebuah jalan di kota Bandung. Tiada yang mendampingi hidupnya di rumah selain Asih, istrinya. Sudah puluhan tahun berumah tangga, Allah Swt Sang Maha Pencipta belum berkenan memberikan mereka keturunan.Namun baik Asep dan Asih adalah model makhluk Tuhan yang menerima segala ketetapan. Mereka selalu menghiasi hidup dengan pengharapan terhadap Tuhan. Bersyukur atas segala nikmat yang mereka terima, dan bersabar atas segala ujian yang diberikan.
Hampir dua puluh tahun mereka menabung demi mewujudkan cita-cita. Sebuah cita-cita mulia yang mereka tanamkan dalam hati, untuk berangkat haji ke Baitullah, Mekkah Al Mukarramah. Dengan hasil dagang di toko yang seadanya, sedikit demi sedikit mereka sisihkan untuk menggapai cita-cita itu. Hanya ibadah haji saja dalam benak mereka yang belum pernah mereka lakukan. Keinginan itu terus membuncah, menggelegak dalam dada seorang hamba yang rindu akan keridhaan Tuhannya.

Hasil tabungan yang mereka kumpulkan tidak mereka tabung di bank. Sengaja uang sejumlah itu mereka simpan agar dapat memotivasi semangat mereka untuk mencari tambahan uang sesegera mungkin. Sungguh dua puluh tahun dalam menabung, merupakan masa yang cukup panjang untuk bersabar demi mewujudkan ketaatan kepada Tuhan. Tidak banyak, manusia modern di zaman sekarang yang mampu memiliki niat sedemikian.

Malam itu, Asep dan Asih sekali lagi menghitung jumlah tabungan mereka. Uang yang mereka simpan untuk berhaji itu kini berjumlah Rp. 50.830.000. Sementara biaya haji pada saat itu berkisar kurang lebih Rp 27 juta per orang, belum lagi biaya bimbingan haji yang harus mereka ikuti, ditambah dengan uang jajan tambahan untuk membeli oleh-oleh. Mereka menghitung, kurang lebih mereka memerlukan dana berkisar Rp 10 juta. Setiap malam berlalu, Asep dan Asih selalu menghitung peruntungan jualan mereka, dan sebagiannya mereka sisihkan untuk mewujudkan cita-cita berhaji.

Suatu pagi, Asep mendengar kabar bahwa kawan karibnya dalam berjamaah shalat di Masjid As Shabirin jatuh sakit secara mendadak dan kini dirawat di RS. Dr. Hasan Sadikin. Setelah divisum oleh dokter rupanya penyakit yang diderita tetangga sekaligus kawan karibnya itu adalah penyakit tumor tulang. Sebuah penyakit yang jarang terjadi pada masyarakat Indonesia.

Bersegeralah, Asep menjenguk kawan karibnya itu. Sesampainya di sana, sahabat tersebut masih berada di ruang ICU dan untungnya masih sadarkan diri sehingga dapat melakukan percakapan dengan Asep. Dari penuturannya Asep mengetahui bahwa tumor tulang tersebut telah membuat tetangganya tidak mampu untuk berdiri lagi, dan tumor tersebut harus diangkat segera. Sebab bila tidak, maka tumor tersebut dapat menjalar ke bagian tubuh lain. Asep bergidik mendengarnya. Namun ia masih terus membesarkan hati sahabatnya itu untuk senantiasa tawakkal dan berdoa kepada Allah Swt Yang Maha Menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya.

Hampir setiap hari Asep menjenguk sahabatnya itu. Pada hari kedelapan, sahabatnya itu telah dipindah ke ruang rawat inap kelas 3, bersama tujuh pasien lainnya dalam satu kamar. Kamar tersebut pengap dengan bau obat, dan tidak layak disebut sebagai kamar rumah sakit. Pemandangan yang berantakan. Jemuran baju pasien dan pendamping yang bertebaran di sepanjang jendela. Seprai kasur yang tidak rapi. Tikar dan koran bertebaran di pojok-pojok kamar. Itu semua membuat pemandangan kamar menjadi tidak asri dan pengap. Namun apa mau dikata, tetangganya adalah seorang yang mungkin memilik nasib sama dengan jutaan orang di Indonesia. Sudah masuk rumah sakit saja Alhamdulillah, nggak tahu bayarnya pakai apa?

Hari itu adalah hari kesebelas sahabatnya dirawat di rumah sakit. Kebetulan Asep sedang berada di sana, seorang perawat membawakan sebuah surat dari rumah sakit bahwa untuk membuang tumor yang berada di sendi-sendi tulang pasien haruslah dijalankan sebuah operasi. Operasi itu akan menelan biaya hampir Rp 50 juta. Bila keluarga pasien mengharapkan kesembuhan, maka operasi tersebut harus dilakukan. Namun kalau mau berpasrah kepada takdir Tuhan, maka tinggal berdoa saja agar terjadi keajaiban.

Siapa orangnya yang tidak mau sembuh dari penyakit? Semua orang pun berharap sedemikian. Namun mau bilang apa? Keluarga sahabat Asep tersebut sudah menguras habis tabungan yang mereka miliki, namun itu semua untuk bayar biaya rumah sakit selama ini saja tidak cukup. Apalagi untuk membiayai proses operasi? Sungguh, yang mampu mereka lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah Swt.Hari kedua belas, ketiga belas, keempat belas.... kondisi pasien semakin parah. Badannya terlihat kurus tak bertenaga. Kelemahan itu terlihat jelas dalam sorot cahaya mata yang kian meredup. Sang pasien tidak mampu lagi menanggapi lawan bicara. Tumor itu semakin mengganas dan menjalar ke seluruh tubuh. Pemandangan itu semakin menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka di pinggir ranjang sahabatnya, Asep pun mengambil sebuah keputusan besar.

Setelah berpamitan dengan keluarga sahabatnya, ia bergegas pulang menuju rumah. Di sana terlihat olehnya Asih sedang melayani pembeli yang datang ke toko sederhana milik mereka. Saat pembeli sudah sepi, Asep lalu menyampaikan keputusannya itu kepada Asih.
“Bu..., Kang Endi tetangga kita yang sedang di rawat di rumah sakit itu kondisinya semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya. Sepertinya kita harus bantu dia dan keluarganya. Tiga hari lalu, kebetulan bapak sedang di sana, seorang suster memberitahukan bahwa Kang Endi harus dioperasi segera. Keluarganya belum berani menyatakan iya, sebab biaya operasi itu hampir Rp 50 juta....” Asep membuka pembicaraannya dengan kalimat yang panjang.

Asih pun mulai merasa iba dengan penderitaan Kang Endi dan keluarganya, “Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu apa...?” Asep pun langsung menyambung dengan cepat, “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Kalimat itu diakhiri dengan sebuah senyum merekah di bibir Asep. “Diberikan....?!! Waduh pak..., hampir dua puluh tahun kita nabung dengan susah payah agar cita-cita berhaji dapat diwujudkan. Masa bisa pupus seketika dengan membantu orang lain yang bukan saudara kita?” Asih mengajukan penolakan atas usulan suaminya.

“Bu...., banyak orang yang berhaji belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah Swt. Biarkan kita hanya berhaji di pekarangan rumah kita sendiri, tidak perlu ke Baitullah. Bapak yakin bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh Dia Yang Maha Kuasa.” Kalimat itu meluncur dari mulut Asep dan menohok relung hati Asih sehingga begitu membekas di dasarnya. Tak kuasa, Asih pun mengangguk dan setuju atas usul suaminya.Keesokan pagi, Asep dan Asih pun datang berdua ke rumah sakit untuk menjenguk. Toko mereka ditutup hari itu. Mereka berdua datang ke rumah sakit dengan membawa sebuah amplop tebal berisikan uang sejumlah Rp 50 juta yang tadinya mereka siapkan untuk berhaji.

Keduanya tiba di rumah sakit dan menjumpai Kang Endi dan keluarganya di sana. Usai membacakan doa untuk pasien, keduanya datang kepada istri Kang Endi. Mereka serahkan sejumlah uang tersebut, dan suasana menjadi haru seketika. Bagi keluarga Kang Endi ini adalah moment dimana doa diijabah oleh Tuhan. Sementara bagi Asep dan Asih, ini merupakan saat dimana keikhlasan menolong saudara harus ditunjukkan. Lalu pulanglah Asep dan Asih ke rumah setelah berpamitan kepada keluarga.

Uang itu kemudian segera dibawa oleh salah seorang anggota keluarga ke bagian administrasi rumah sakit. Formulir kesediaan menjalani operasi telah diisi. Besok pagi jam 08.00 operasi pengangkatan tumor di sendi-sendi tulang Kang Endi akan dilakukan. Alhamdulillah!
Esoknya Kang Endi sudah dibawa ke ruang operasi. Sebelum dioperasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan keluarga. “Doakan ya agar operasi berjalan lancar dan Pak Endi semoga lekas sembuh! Kalau boleh tahu..., darimana dana operasi ini didapat?” Dokter mencetuskan pertanyaan tersebut, karena ia tahu sudah berhari-hari pasien tidak jadi dioperasi sebab keluarga tidak mampu menyediakan dananya.

Istri Kang Endi menjawab, “Ada seorang tetangga kami bernama pak Asep yang membantu, Alhamdulillah dananya bisa didapat, Dok!” “Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Dibenak dokter, pastilah pak Asep adalah seorang pengusaha sukses.“Dia hanya punya usaha toko kecil di dekat rumah kami. Saya saja sempat bingung saat dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu!” Istri Kang Endi menambahkan.Di dalam hati, dokter kagum dengan pengorbanan pak Asep dan istrinya. Hatinya mulai tergerak dan berkata, “Seorang pak Asep yang hanya punya toko kecil saja mampu membantu saudaranya. Kamu yang seorang dokter spesialis dan kaya raya, tidak tergerak untuk membantu sesama.” Suara hati itu terus membekas dalam dada pak dokter. Pembicaraan itu usai, dan dokter pun masuk ke ruang operasi.

Alhamdulillah operasi berjalan sukses dan lancar. Ia memakan waktu hingga 4 jam lebih. Semua tumor yang berada pada tulang Kang Endi telah diangkat. Seluruh keluarga termasuk dokter dan perawat yang menangani merasa gembira.
Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Pak Asep masih sering menjenguknya. Suatu hari kebetulan pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang Endi dan pak Asep pun sedang berada di sana. Keduanya pun berkenalan. Pak dokter memuji keluasan hati pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Pemiliknya, yaitu Allah Swt. Hingga akhirnya, pak dokter meminta alamat rumah pak Asep secara tiba-tiba.

Beberapa minggu setelah Kang Endi pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya. Toko belum lagi ditutup, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan hitam diparkir di luar pagar rumah. Nampak ada sepasang pria dan wanita turun dari mobil tersebut. Cahaya lampu tak mampu menyorot wajah keduanya yang kini datang mengarah ke rumah pak Asep. Begitu mendekat, tahulah pak Asep bahwa pria yang datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya kemarin.

Gemuruh suasana hati Asep. Ia terlihat kikuk saat menerima kehadiran pak dokter bersama istrinya. Terus terang, seumur hidup, pak Asep belum pernah menerima tamu agung seperti malam ini.
Maka dokter dan istrinya dipersilakan masuk. Setelah disuguhi sajian ala kadarnya, maka mereka berempat terlibat dalam pembicaraan hangat. Tidak lama pembicaraan kedua keluarga itu berlangsung. Hingga saat pak Asep menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan istri. Maka pak dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturrahmi kepada pak Asep dan istri.

Pak dokter menyatakan bahwa ia terharu dengan pengorbanan pak Asep dan istri yang telah rela membantu tetangganya yang sakit dan memerlukan dana cukup besar. Ia datang bersilaturrahmi ke rumah pak Asep hanya untuk mengetahui kondisi pak Asep dan belajar cara ikhlas membantu orang lain yang sulit ditemukan di bangku kuliah. Semua kalimat yang diucapkan oleh pak dokter dielak oleh pak Asep dengan bahasa yang selalu merendah.Tiba saat pak dokter berujar, “Pak Asep dan ibu...., saya dan istri berniat untuk melakukan haji tahun depan. Saya mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan kami dimudahkan Allah Swt... Saya yakin doa orang-orang shaleh seperti bapak dan ibu akan dikabul oleh Allah...” Baik Asep dan Asih menjawab serentak dengan kalimat, “Amien...!”

Pak dokter menambahkan, “Selain itu, biar doa bapak dan ibu semakin dikabul oleh Allah untuk saya dan istri, ada baiknya bila bapak dan ibu berdoanya di tempat-tempat mustajab di kota suci Mekkah dan Madinah...” Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini sama-sama membuat bingung Asep dan Asih sehingga membuat mereka berani menanyakan, “Maksud pak dokter....?” “Ehm..., maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak bapak dan ibu Asep untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah akan mengabulkan doa kita semua!”

Kalimat itu berakhir menunggu jawaban. Sementara jawaban yang ditunggu tidak kunjung datang hingga air mata keharuan menetes di pipi Asep dan Asih secara bersamaan. Beberapa menit keharuan meliputi atmosfir ruang tamu sederhana milik Asep dan Asih. Seolah bagai rahmat Tuhan yang turun menyirami ruh para hamba-Nya yang senantiasa mencari keridhaan Tuhan.

Asep dan Asih hanya mampu mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Usai pak dokter pulang, keduanya tersungkur sujud mencium tanah tanda rasa syukur yang mendalam mereka sampaikan kepada Allah Yang Maha Pemurah. Akhirnya, mereka berempat pun menjalankan haji di Baitullah demi mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla.
Sungguh, kesabaran panjang yang diakhiri dengan pengorbanan kebaikan, akan berbuah di tangan Allah Swt menjadi balasan yang besar dan anugerah yang tiada terkira.


*Sumber tulisan asli tidak saya ketahui.
Baca Selengkapnya ... »»  

KUMPULAN KATA BIJAK KH. ANWAR ZAHID

KH. ANWAR ZAHID


  • Sabar itu tak terbatas, Ikhlas itu tak berbekas.

    Orang yang paling disukai Allah adalah orang yang hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

    Sholatlah dibelakang Imam, sebelum kita di sholati di hadapan Imam.

    Agama itu tidak pernah mengecewakan manusia, tapi manusia seringkali mengecewakan agama.

    Jangan rendahkan dirimu untuk mendapatkan sesuatu, tapi rendahkan hatimu untuk berikan sesuatu

    Kita diberikan kelebihan bukan untuk takabur, tapi semata-mata hanya untuk bersyukur

    Disini (dunia) adanya cuma harapan, disana (akhirat) yang ada hanya kepastian.

    Menjalankan Sholat itu mudah, tp mendirikan Sholat tidak semua orang bisa.

    Melihatlah ke atas untuk urusan akhiratmu dan melihatlah ke bawah untuk urusan duniamu.

    Tiga sifat manusia yang merusak adalah, kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan.

    Dikepala ada otak untuk berfikir dan dada ada hati untuk berdzikir.

    Seseorang yang menemani anda disaat anda susah & duka jauh lebih bermakna dibanding dengan seribu orang yang menemani anda disaat anda senang & gembira

    walaupun tidak ada manusia yang benar2 baik, tp setidaknya jadi manusia yang agak baik itu lebih baik dari pada jadi manusia yang tidak baik.

    Lihatlah pada orangg dibawah kalian (secara harta) dan janganlah kalian melihat orang diatas kalian, karena sesungguhnya yang demikian itu akan mengantarmu untuk tidak merendahkan nikmat ALLAH SWT pada kalian.

    di islam waktu kita lahir diadzan'i tanpa shlat, dan ingatlah saat kita mati nanti kita akan disholati tanpa diadzan'i.
    jadi segeralah sholat stlh adzan dikumandangkan.

    Hebat itu bukan karna selalu mendapatkan keinginannya, tapi orang hebat itu adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya.

    Yakinlah bahwa sekecil-kecilnya keikhlasan pasti akan mendatangkan keberkahan.
Baca Selengkapnya ... »»  

Jadilah Orang Tua Yang Bijak...!!!

Jadilah Orang Tua Yang Bijak...!!! | http://poerwalaksana.blogspot.com/
Dr. Arun Gandhi, cucu mendiang Mahatma Gandhi bercerita : 

Pada masa kecil ia pernah berbohong kepada ayahnya. Saat itu ia terlambat menjemput ayahnya dengan alasan mobilnya belum selesai diperbaiki, padahal sesungguhnya mobil telah selesai diperbaiki hanya saja ia terlalu asyik menonton bioskop shg lupa akan janjinya. 


Tanpa sepengetahuannya, sang ayah sudah menelpon bengkel lebih dulu sehingga sang ayah tahu ia berbohong. 


Lalu wajah ayah tertunduk sedih; sambil menatap Arun sang ayah berkata : 

"Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah da?am mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak punya keberanian utk berbicara jujur kepada ayah. 
Utk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki; sambil merenungkan di mana letak kesalahannya" 

Dr. Arun berkata : 

Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun. 

Seandainya saja saat itu ayah menghukum saya, mungkin saya akan menderita atas hukuman itu, dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya.Tapi dengan tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah, meski tanpa kekerasan, justeru memiliki kekuatan luar biasa utk mengubah diri saya sepenuhnya. 


To all dear lovely parents... 

Yuuuk, mari kita membiasakan diri utk selalu bertanya, "Apa yang salah dari saya, mengapa anak saya bisa seperti itu....??" 

Selamat menjadi orang tua yang bijak and Have quality time with ur lovely family... 

Baca Selengkapnya ... »»  

Laurence Kim Peek, Pria Dengan Keterbelakangan Mental Namun Super Jenius

Menurut ayahnya, Peek sudah memiliki ingatan yang kuat sejak usia 16-20 bulan. Ia membaca buku, mengingat isinya lalu mengembalikan buku-buku tersebut dengan posisi terbalik ke rak untuk menunjukkan kalau ia sudah selesai membacanya.

Ia membaca satu buku dalam waktu rata-rata satu jam, dan mengingat nyaris semua yang ia baca, mengingat informasi yang sangat luas dalam hal sejarah, literatur, geografi, angka, olahraga, musik dan tanggal.




http://starcasm.net/wp-content/uploads/2009/12/kimpeek.jpg

Teknik membacanya yaitu dengan membaca halaman kiri dengan mata kirinya dan halaman kanan dengan mata kanannya, dengan cara ini ia bisa membaca dua halaman sekaligus dengan rate 8-10 detik per halaman. ia bisa mengingat isi 12000 buku.

Mungkin para pencinta fisika sudah tidak asing lagi dengan beberapa nama orang-orang jenius di bidang fisika seperti: Albert Einstein, Erwin Schroedinger, Max Planck, dan sebangsanya.

Mereka memang merupakan orang jenius yang terlahir pada zamannya masing-masing. Tapi sekarang kita tak akan membicarakan mereka, karena yang akan dibahas kali ini adalah sesosok manusia SUPERJENIUS, dialah The Rain Man alias Kim Peek.


Masa-masa Awal Kehidupan Kim Peek

Kim dilahirkan pada tahun 1951 dengan ukuran kepala 3 kali lebih besar dibandingkan ukuran kepala bayi normal. Selain itu, Kim juga divonis menderita encephalocele, yaitu semacam luka di belakang kepala yang memperlihatkan sebagian otaknya yang menonjol keluar.

http://cache.daylife.com/imageserve/0goVcgj4lRba3/340x.jpg

Di usia tiga tahun, luka itu semakin meluas dan merusak sebagian otak Kim. Tahun 1983, Kim menjalani pemeriksaan X-ray yang berhasil menyibak keanehan yang terjadi di otak Kim, yaitu otak Kim hanya memiliki satu bagian! Dengan kata lain, otak Kim tidak terbagi menjadi otak kanan dan otak kiri layaknya orang normal.

Kemudian, setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, kemballi diperlihatkan bahwa setengah dari bagian otak Kim telah terpecah menjadi tiga bagian.

Berbagai pemeriksaan itu tak juga memberikan keterangan mengenai penyebab kejeniusan Kim, melainkan hanya penyebab ketidakmampuannya. Kim memiliki kelemahan dalam hal motorik, bahkan untuk mandi dan menggosok gigi pun tak dapat dilakukan seorang diri.

Ketika Kim lahir, dokter memvonisnya sebagai ‘anak terbelakang’ atau ‘cacat mental’ dan ia menyarankan kedua orang tua Kim untuk membawanya ke rumah perawatan. Namun pada saat itu Fran dan istrinya membawa pulang Kim dan memperkenalkan Kim pada buku.

http://cache.daylife.com/imageserve/00Mr1zl4HLfdL/340x.jpg

Pada usia tiga tahun, Kim bertanya pada Fran arti kata “rahasia”. Sambil bercanda, Fran menyuruh putranya itu untuk mencarinya di kamus. “Saat itu ia belum bisa berjalan”, kenangnya, “jadi ia merangkak ke arah meja, mengangkat tubuhnya ke atas meja dan sekitar 30 detik kemudian ia berseru ‘ketemu!’”

Saat berumur 4,5 tahun Kim sudah hafal 8 volume awal dari satu set ensiklopedia yang ada di rumahnya. Bahkan, baru-baru ini telah terungkap bahwa Kim dapat membaca 2 halaman buku secara bersamaan dan meyerap isinya hanya dalam waktu 10 detik! Hebatnya lagi informasi yang ia peroleh tadi tak akan dia lupakan. Menakjubkan!

Selain kemampuan menghafal dan aritmatika yang jauh diatas rata-rata, Kim juga mencintai musik dan belajar memainkan piano pada Dr. April Greenan dari Universitas Utah.

“Dia mempunyai kemampuan bermusik yang fenomenal dan lebih dari sekedar menghafal”, Ujar Dr.Greenan. “Bila Kim mendengar sebuah simfoni saat dia kecil, dan kemudian mendengarnya lagi pada usia 53 tahun, ia langsung dapat mengetahui bila terdapat kesalahan kecil pada permainan musik itu.”


Kejeniusan Seorang Kim Peek

Sesungguhnya apa yang dikatakan dokter yang membantu kelahiran Kim ialah benar, bahwa Kim bukanlah merupakan seorang autis jenius, tapi lebih tepat disebut pria dengan keterbelakangan mental yang superjenius.

Karena seorang yang jenius biasanya memiliki kemampuan luar biasa dalam 3 bidang. Tetapi Kim, sang superjenius, memiliki kemampuan yang sangat hebat setidaknya di 15 bidang yang berbeda!


Hal ini disebabkan karena kemampuan menghafal 12.000 buku, memprediksi cuaca dan memiliki kemampuan bermusik layaknya Mozart! Tak ada orang lain di dunia ini yang memiliki kapasitas otak seperti Kim Peek.

Badan Antariksa Amerika (NASA) pun tertarik menggunakan berbagai peralatan canggih, seperti brain imaging dan data fusion techniques, untuk menemukan rahasia di balik kemampuan otak Kim yang mengagumkan.

Ketika Kim ditanya mengenai pendapatnya mengenai langkah yang akan diambil NASA, ia pun menjawab, “Itu yang terbaik.” Mengapa dia bisa tahu segalanya? “Karena saya punya rasa cinta yang besar pada semua yang saya lihat,”ujar Kim.

Sulit untuk berbincang-bincang dengan Kim. Pikirannya mampu berpindah-pindah dengan kecepatan tinggi. Namun dengan bantuan Fran, Kim selalu dibimbing untuk kembali pada topik pembicaraan semula.

Dalam sebuah pembicaraan umum, seorang bercerita bahwa ia dibesarkan di kota Cirencester. “Itu adalah nama kamp orang Romawi, Corin,” sahut Kim. “Corinium,” ujar orang tersebut seraya membetulkan pernyataan Kim. Tetapi belakangan, setelah dicek ulang, Kim lah yang benar. Karena orang-orang Romawi mengambil nama Corinium dari bahasa Keltik, Corin.

Read more: Repost
Baca Selengkapnya ... »»  

Benarkah Al-Qur'an Berkata Matahari Tidak Menyebabkan Siang ?

Membaca judul postingan ini mungkin sebagian akan berpikir, "bagaimana mungkin? Bukankah orang-orang dari jaman dahulu kala sampai sekarang tahu dan sadar bahwa siang itu ada karena matahari?" Percaya atau tidak, ternyata Al-Qur'an menyatakan hal itu, dan kebenarannya sudah dibuktikan dengan ilmu pengetahuan saat ini. Pernyataan yang dimaksud adalah pada surah Asy-Syams ayat 1-4 :
[91:1] Demi matahari dan cahayanya di pagi hari
[91:2] dan bulan apabila mengiringinya
[91:3] dan siang apabila menampakkannya
[91:4] dan malam apabila menutupinya

Pertama, pada ayat pertama Al-Qur'an menggunakan kata "dhuhaha" dengan asal kata "dhuha" yang berarti "cahaya pagi". Jika di lain ayat Allah menggunakan kata "dhiyaan" untuk menyatakan sinar matahari, disini Allah menyatakan dengan kata "dhuha". Kenapa "dhuha" ? karena "dhuha"-lah cahaya matahari yang tampak di bumi.

Di ayat ketiga Allah menyatakan "dan siang apabila menampakkannya (jallāhā)". "jallāhā" di sini di artikan menampakkan, akan tetapi kata "jalla" yang merupakan kata dasar dari "tajalla" dapat pula di artikan dengan berarti "memuliakan", "mengagungkan" atau "membesarkan" (silakan menggunakan kamus bahasa arab, atau di Arabic-English Lane's Lexicon, atau dapat pula dilihat di corpus.quran.com)

Ilmu pengetahuan saat ini menyatakan bahwa yang menyebabkan siang  menjadi terang benderang adalah dikarenakan atmosfir bumi memfilter cahaya matahari dan menguatkan dengan cara  menyebarkannya (scattering). Tanpa atmosfir bumi, cahaya matahari yang dirasakan di bumi tidak akan seterang saat ini dan akan jauh lebih berbahaya karena tidak adanya filter.

Kenyataannya, di luar angkasa, cahaya matahari tidak "tampak" seterang di bumi yang mampu menyinari seluruh permukaan suatu planet. Hal ini dikarenakan karena luar angkasa itu sangat gelap. Cahaya matahari nyaris "tertutup malam" seperti yang dikatakan di ayat ke 4 surah Asy-Syam di atas. Siang hari di bulan akan sangat berbeda dengan dibumi. Warna gelap akan tetap mendominasi langit bulan, tidak akan biru terang seperti siang hari di bumi. Ini disebabkan karena "siang" di bulan tidak "mengagungkan" cahaya matahari akibat atmosfer yang tidak memadai.

Di dalam ayat yang lain Allah menyatakan : 
[36:37] Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.
Seperti yang pernah diuraikan pada postingan "Matahari dan bulan mengelilingi bumi" sebelumnya, penggunaan kata "tanggalkan" di sini mengandung arti bahwa malam (kegelapan) mendominasi alam semesta, seperti pigura yang ditanggalkan dari dinding yang berarti dinding yang mendominasi. Di bawah adalah gambar matahari yang diambil oleh NASA, dimana terlihat, walaupun terdapat sinar matahari, sekeliling luar angkasa tetaplah terdominasi oleh malam, sehingga tepatlah istilah siang ditempelkan pada malam, dan pada akhirnya siang ditanggalkan dari malam :


Mari kita perhatikan pernyataan pada ayat yang lainnya :
[15:14] Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,
[15:15] tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan (sukkirat), bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir".
"Sukkirat" pada ayat 15 surah Al-Hijr sebagaimana di sebutkan diatas diartikan sebagai dikaburkan. "sukkirat" adalah bentuk pasif dari "sukara" yang artinya mabuk. Jadi "sukkirat" juga dapat diartikan sebagai "dikaburkan, disamarkan, atau dibutakan seperti dalam keadaan mabuk". Allah memberitahukan bahwa apabila seseorang pergi ke luar angkasa, mereka akan mendapati pandangan mereka dikaburkan dan digelapkan, karena luar angkasa itu dalam keadaan hitam gelap, tidak berwarna biru terang seperti siang yang terlihat dari bumi, tidak seperti prasangka orang-orang sebagaimana yang teramati dari bumi.

Di surah Al-Lail (91) ayat 1 pun disebutkan bahwa malam (gelap) itu meliputi dan menutupi, yang berarti malam mendominasi alam semesta :
[Q.S 92:1] Demi malam yang meliputi/menutupi
Jadi, Al-Qur'an menyatakan bahwa siang yang terjadi di bumi tidak dikarenakan karena adanya matahari itu sendiri, melainkan karena siang itu (dengan adanya atmosfir bumi), menguatkan,menyebarkan, dan memfilter cahaya matahari, yang terjadi ketika sebagian permukaan bumi menghadap ke arah matahari, Sesuatu yang dinyatakan 15 abad yang lalu dengan bahasa yang dapat diterima pada jamannya dan dapat dibuktikan kebenarannya dengan ilmu pengetahuan saat ini.

Tanpa matahari tentu saja tidak akan mungkin ada siang, akan tetapi adanya matahari saja tidak cukup untuk menjadikan siang di bumi seperti yang manusia rasakan. Perlu adanya elemen lain (baca : atmosfer) agar dapat menjadikan sinar matahari yang sampai ke bumi dapat menjadi siang seperti yang dirasakan oleh seluruh makhluk di bumi saat ini.

Bahasa arab yang sangat kaya akan makna, dimana satu kata dapat memiliki banyak makna merunut dari akar-akar katanya maupun dari penggunaan kata itu sendiri, dapat menjadi salah satu alasan mengapa Allah menjadikan bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur'an, wallahu a'lam, seperti hadist yang disebutkan di akhir postingan ini.


Surah Asy-Syams menerangkan tentang Hidrogen dan Helium

Ilmu pengetahuan saat ini menjelaskan bahwa matahari terdiri dari kurang lebih 74% hidrogen (H), 24% helium (He) dan 2% unsur lain. Helium ini sendiri terbentuk dari hasil reaksi energi nuklir terhadap Hidrogen.

Tidak dapat dikatakan sebagai suatu kebetulan kalau surat Asy-Syams, yang berarti matahari, merupakan satu-satunya surah yang seluruh ayatnya di akhiri oleh hamzah (H) and alif (A dalam ejaan arab atau dapat menjadi E dalam ejaan ibrani). H yang berarti hidrogen yang ditambah dengan Energi menjadi HE (helium).

Dan juga sepertinya kurang tepat pula jika dikatakan sebagai kebetulan kalau ternyata Asy-Syams adalah surah ke-91 dalam Al-Quran, yang mana dikutip dari General, Organic, and Biological Chemistry Oleh H. Stephen Stoker, bahwa di alam semesta ini, 91% partikel dasar yang ada adalah Hidrogen dan hampir 9% sisanya adalah helium : 
"All other elemets are mere "imputities" when their abundances are compared with those of these two dominant elements. In this big picture, in which Earth is but a tiny microdot, 91% of all elemental particles (atoms) are Hydrogen, and nearly all of the remaining 9% are Helium".
Jadi, lihatlah bagaimana 91% elemen yang terdapat di tata surya kita, terutama matahari, adalah hidrogen, yang sama dengan nomor urut surah Asy-Syams dalam Al-Qur'an.

Tidak ada yang kebetulan mengenai ketepatan Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan, karena Allah telah menghitung segala sesuatunya dengan sangat cermat, dan Al-Qur’an diturunkan dengan ilmu Allah.
[72:28] ... dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.
[11:14] ... maka ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah ...
Sekali lagi, betapa Allah telah memperingatkan manusia bahwa segala sesuatunya tidak harus disodorkan secara tersurat, karena tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang berilmu.
[29:43] Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya
Baca Selengkapnya ... »»  

MENJAWAB PERTENTANGAN WAKTU DALAM AL-QUR'AN: 1000 TAHUN VS 50000 TAHUN

"Ada pertentangan dalam Al-Qur'an, pertentangan mengenai waktu", Orang yang membaca Al-Hajj ayat 47, As-Sajadah ayat 5 serta Al-Ma'aarij ayat 4 mungkin akan berpikir demikian. “Ada ketidak-konsistenan yang ditunjukkan dari ketiga ayat ini". Tiga ayat yang dimaksud tersebut memiliki redaksi terjemahan sebagai berikut :
[32:5] Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu 
[70:4] Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun 
[22:47] Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi ('inda) Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.
Sementara ayat 22:47 dan 32:5 menyatakan bahwa satu hari adalah sama dengan 1000 tahun, di ayat 70:4 menyatakan bahwa satu hari sama dengan 50 ribu tahun. Jadi, mana yang benar, satu hari = 1000 tahun atau satu hari = 50 ribu tahun?
Relativitas dan Kecepatan 
Jika perhatikan dengan baik-baik ketiga ayat di atas, kita melihat bahwa ketiga ayat tersebut membahas dua hal yang berbeda, tidak ada pertentangan dalam ketiga ayat di atas. ketiganya menggambarkan kadar hari untuk tujuan yang berbeda-beda. 
  • Surah 32 dan Surah 70 dengan jelas menggunakan kadar hari tersebut sebagai pengganti kecepatan, sedangkan surah 22 menggunakan kadar hari bukan sebagai ukuran kecepatan, tetapi sebagai suatu relativitas waktu. 
  • Pada surah 32, dengan jelas Allah menegaskan bahwa "urusan" (yang dibawa oleh malaikat) naik kepadaNya dengan kecepatan yang digambarkan sebagai satu hari bagi sang urusan yang seperti seribu tahun menurut perhitungan manusia, yang berarti urusan tersebut dibawa dengan sangat cepat. 
  • Pada surah 70, objeknya adalah Malaikat, dimana mereka ketika menghadap Allah, kecepatan mereka adalah satu hari seperti lima puluh ribu tahun. Dibawah juga akan dibahas bagaimana ayat dalam surah ini menyatakan relativitas, selain menyatakan kecepatan. 
Dari sini timbul pertanyaan lagi, kalau demikian, dimana surah 32 ayat 5 dan surah 70 ayat 4 dikatakan mengindikasikan kecepatan malaikat, mengapa dalam hal ini kecepatan malaikat berbeda ? di ayat yang satu di katakan dengan kecepatan sehari seperti seribu tahun, di ayat yang lain dikatakan sehari seperti lima puluh ribu tahun ? 
Surah 32 ayat 5 : Urusan yang dibawa dengan kecepatan cahaya 
Pertama kita lihat surah 32 ayat 5. Melalui perhitungan matematika yang panjang berdasarkan fakta yang diperoleh dengan ilmu pengetahuan saat ini, dapat dibuktikan bahwa surah 32 ayat 5 ini menjelaskan mengenai "kecepatan cahaya". Kata kunci yang diungkapkan Allah pada ayat ini adalah "menurut perhitunganmu" (mimmaa ta'udduuna). 
Urusan, di bawa malaikat, dengan suatu kecepatan dimana apabila dengan kecepatan tersebut ditempuh dalam waktu satu hari, akan sama dengan seribu tahun "menurut perhitunganmu". "Menurut perhitunganmu" disini dilihat kembali dari bagaimana orang-orang Arab pada saat Al-Qur'an ini di turunkan menghitung tahun. Hal ini juga di jelaskan oleh Allah di ayat yang lain :
[10:5] Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)...
[9:36] Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi ...
Lihat bagaimana Allah menegaskan bahwa Allah menjadikan bulan berfase-fase (manzilah) agar kita mengetahui bilangan tahun dan "perhitungan". Jadi jelas "menurut perhitunganmu" disini adalah perhitungan tahun dengan melihat pergerakan bulan, dimana satu tahun lamanya adalah 12 kali bulan berrevolusi mengelilingi bumi. Demikianlah ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi (Ayat ini juga bermaksud mengoreksi kaum Yahudi yang selalu menambahkan bulan ketiga belas dalam satu tahun setiap beberapa tahun sekali).
Disini kita akan sedikit berhitung, bagaimana surah As-Sajadah ayat 5 ini menyatakan bahwa apabila suatu benda bergerak dengan kecepatan cahaya selama satu hari, akan menempuh jarak yang sama dengan jarak yang ditempuh bulan dalam mengitari bumi sebanyak 12000 kali (yang setara dengan 1000 tahun perhitungan bulan, sesuai dengan surah Yunus (10) ayat 5 bahwa manzilah bulan dijadikan agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan). 
Asumsi ayat As-Sajadah ayat 5 menjelaskan mengenai kecepatan cahaya, sehingga harus dibuktikan bahwa jarak yang ditempuh oleh malaikat ketika membawa urusan tersebut dalam satu hari, adalah sama dengan jarak yang ditempuh oleh bulan dalam waktu seribu tahun, mengingat perhitungan tahun orang-orang Arab pada waktu ayat ini diturunkan sampai sekarang digunakan oleh umat muslim adalah perhitungan bulan. 
Rumus dasar jarak tempuh adalah kecepatan dikalikan dengan waktu. Misalkan kecepatan malaikat = C, waktu tempuh malaikat adalah t = 1 hari, jarak tempuh bulan selama satu periode (satu bulan) adalah L dan seribu tahun adalah yang mana satu tahunnya ada 12 bulan, maka dapat dirumuskan : 
C x t = 12000 x L .... (a) 
  • kecepatan cahaya yang saat ini diketahui = 299792.458 km/detik 
  • waktu sinodik penanggalan bulan adalah 29.530589 hari 
  • waktu orbit sebenarnya (sidereal) bulan (mempertimbangkan pergerakan bumi dan bulan terhadap matahari, waktu pengamatan objek relatif terhadap bintang-bintang yang jauh -- lihat gambar di bawah ) adalah 27.321582 hari 
  • rata-rata radius orbit bulan adalah 384399 km (R)
  • waktu sinodik satu hari bumi adalah 24 jam atau 86400 detik (s) 
  • waktu sidereal (waktu yang sebenarnya) rotasi bumi adalah 23 jam 56 menit 4.100 detik atau 86164.1 detik (= t)
Catatan : Nilai sinodik (berdasarkan pengamatan dari Bumi) di atas hanya sebagai gambaran saja, dan dalam perhitungan berikut yang digunakan adalah waktu sidereal-nya. Referensi angka di atas dapat dicari dari berbagai sumber baik melalui buku-buku sains mengenai tata surya maupun di internet.

Dari rumus (a) di atas, mengingat L adalah jarak yang ditempuh bulan dalam waktu satu kali revolusi, mengingat pergerakan bulan juga dipengaruhi oleh pergerakan bumi dalam mengelilingi matahari, oleh karena itu : 
L = T x V x cos θ.....(b) 
dimana : 
  • V adalah kecepatan rata-rata bulan mengelilingi bumi 
  • T adalah waktu tempuh bulan mengelilingi bumi 
  • θ adalah sudut relatif orbit bulan terhadap matahari dalam revolusi mengelilingi bumi dengan memperhitungkan bulan bersama-sama bumi mengelilingi matahari (dalam waktu sebenarnya/sidereal). Dalam hal ini V dikalikan cos θ dikarenakan walaupun kecepatan bulan relatif terhadap bumi, akan tetapi kecepatan bulan ini juga dipengaruhi oleh gaya tarik gravitasi matahari. Cos θ memberikan kecepatan bulan relatif  terhadap bumi ke arah bintang-bintang yang jauh tanpa dipengaruhi gaya tarik gravitasi matahari (sidereal), seperti yang digambarkan di bawah ini :


Dengan mengambil rata-rata radius orbit bulan, berarti V adalah (2πR) / T, berarti :
L = T x ((2 x π x R) / T) x cos θ 
sehingga 
L= 2 x π x R x cos θ ....(c) 
Karena satu kali bumi mengelilingi matahari adalah selama 365.256363004 hari, satu lingkaran penuh adalah 360 derajat, dan waktu orbit penanggalan bulan adalah 27.321582 hari, maka dapat dihitung :
θ = (27.321582 / 365.256363004) x 360 = 26.928400203920024246598326619744 derajat 
sehingga 
cos θ = 0.8915731585494074768050096881472 
Mengingat π = 3.1416, maka dari persamaan (c) kita mendapatkan : 12000 x L= 12000 x 2 x 3.1416 x 384399 x 0.8915731585494074768050096881472 = 25831447149.25720 km 
Jadi jarak yang ditempuh bulan dalam seribu tahun menurut perhitungan sekarang adalah 25831447149.25720 km. Karena waktu tempuh bulan dalam kurun waktu seribu tahun ini menurut Al-Qur'an sama dengan jarak yang ditempuh malaikat dalam waktu 1 hari, maka menurut persamaan (a) diperoleh :

C = 25831447149.25720 / t, dimana t adalah waktu sidereal rotasi bumi = 86164.1 detik, sehingga diperoleh C = 299793.616474346 km/detik
Perbandingan antara kecepatan cahaya hasil perhitungan modern saat ini, dengan  kecepatan cahaya di atas adalah 0.999996136 atau bisa dikatakan 1 banding 1. Bahkan jika perhitungan di atas di ulangi dengan nilai sinodiknya (dimana satu kali bumi mengelilingi matahari adalah 365.25 hari, satu bulan adalah 29.5 hari, dan satu hari adalah 86400 detik) di peroleh hasil yang jika dibandingkan dengan nilai kecepatan cahaya hasil perhitungan modern saat ini adalah 0.98 banding 1. Tentu saja penggunaan nilai sidereal menghasilkan nilai yang lebih akurat karena nilai tersebut adalah nilai sebenarnya atau nilai sejatinya.
Dari perhitungan di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa surah As-Sajadah (32) ayat 5 ini menyatakan bahwa jarak yang ditempuh kecepatan cahaya dalam waktu satu hari sama dengan seribu tahun menurut perhitungan kita manusia. 
Lalu bagaimana dengan surah Al-Ma'aarij ayat 4 ? Dikatakan pada ayat tersebut malaikat naik dalam satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Apakah berarti malaikat bergerak dengan kecepatan 50 kali kecepatan cahaya ? 
Padahal kita tahu bahwa galaksi yang paling dekat dengan galaksi kita berjarak 2.5 juta tahun cahaya, yang artinya memiliki jarak sama dengan jarak yang ditempuh benda berkecepatan cahaya selama 2.5 juta tahun. Berarti apakah para malaikat untuk dapat sampai ke galaksi Andromeda dari bumi membutuhkan waktu tempuh 50 tahun, selama itukah ?
Surah 70 ayat 4 : Wormhole, Jalan malaikat yang disediakan Allah 
Menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita baca ayat 1 sampai 4 surah Al-Ma'aarij ini :
[70:1] Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa
[70:2] untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya
[70:3] (yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik (ma'aarij)
[70:4] Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun
Pertama, perhatikan bagaimana redaksi ayat keempat diatas berbeda dengan As-Sajadah (32) ayat 5 sebelumnya. Dalam surah 70 ayat 4 ini tidak ada kata "mimmaa ta'udduuna", yang berarti tidak dihitung sebagai jarak seperti di dalam As-Sajadah ayat 5. Waktu vs waktu, bukan waktu vs jarak. 
Seperti halnya Al-Hajj ayat 47 yang menyatakan relativitas waktu, Al-Ma'aarij ayat 4 ini pun menyatakan relativitas waktu. Namun ayat ini juga menyatakan kecepatan karena membicarakan mengenai malaikat-malaikat dan Jibril yang "naik" menghadap Tuhan. Jadi surah Al-Ma'aarij (70) ayat 4 ini menyatakan relativitas waktu dan kecepatan, akan tetapi tidak menyatakan jarak.

Patut digaris bawahi di sini mengenai keberadaan ayat ke-3, yaitu satu ayat sebelumnya, bagaimana Allah menyatakan bahwa Dia memiliki apa yang dinamakan sebagai "tempat-tempat naik" atau Ma'aarij, yang kemudian di ayat 4 menyatakan bahwa para malaikat "naik" (dengan menggunakan tempat naik ini) dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun (bukan "menurut perhitunganmu", karena tidak ada kata-kata "mimmaa ta'udduuna" disini).

Ya, dengan Ma'aarij inilah Malaikat-malaikat, yang bergerak dengan kecepatan cahaya, mampu menempuh jarak yang jauh dalam waktu yang singkat. Dengan Ma'aarij ini pulalah Nabi Muhammad SAW melakukan mi'raj (yang merupakan bentuk tunggal dari ma'aarij) ke sidratul muntaha dalam waktu yang singkat pula. Di dalam ilmu pengetahuan sekarang, ma'aarij ini di kenal dengan nama wormhole, sebuah teori mengenai pemendekan jarak dan dilatasi waktu. 
Wormhole ini didefinisikan sebagai suatu hipotesa mengenai adanya topologi di dalam ruang dan waktu yang merupakan jalan pintas dari suatu tempat di dalam ruang waktu ke tempat lain yang jaraknya berjauhan. Walaupun belum ada bukti-bukti observasi mengenai keberadaan wormhole ini, akan tetapi di tingkat teoritik telah ditemukan apa yang dikatakan sebagai "valid solutions to the equations of the theory of general relativity" yang membuktikan kemungkinan keberadaan wormhole.  
Salah satunya adalah persamaan Schwarzschild wormholes yang di dasarkan pada persamaan medan Einstein (Einstein Field Equations/EFE), seperti yang dimodelkan pada gambar di bawah.
Sesuatu yang mungkin bagi manusia masih merupakan suatu teori, akan tetapi diterapkan Allah dalam bentuk "ma'aarij", Sebagaimana Allah menyatakan dalam surah Al-Anbiyaa ayat 104 :
[21:104] (Yaitu) pada hari Kami gulung (lipat/nathwii) langit seperti menggulung (melipat/kathayyi) lembaran - lembaran kertas...
Metode "pelipatan" langit ini telah digunakan oleh para malaikat untuk dapat menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat, dan “pelipatan” ini dalam arti yang lebih harfiah yang akan Allah gunakan pada saat kiamat, mengingat bentuk alam semesta yang elipsoid relatif datar, sebagaimana yang dijelaskan di postingan "Bumi diciptakan lebih dulu daripada langit, sebuah pernyataan Al-Qur'an". Melalui “pelipatan” yang menghasilkan “Ma’arij” inilah Allah menyediakan jalan bagi para malaikat untuk dapat bepergian ke tempat yang sangat jauh sekalipun dalam waktu yang singkat.




Pada ayat ke-4 surah Al-Ma'aarij ini pula dijelaskan mengenai para Malaikat melewati wormhole dengan kecepatan yang mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya, dan juga menyatakan bahwa satu hari di dalam wormhole (ma'aarij) akan mengalami dilatasi waktu sama dengan lima puluh ribu tahun relatif terhadap manusia di bumi.

Dilatasi waktu ini tidak menyatakan berapa lama sesuatu itu melewati wormhole, akan tetapi hanya menyatakan apabila sesuatu melewati wormhole, maka akan merasakan rasio waktu atau umur yang demikian, yaitu 1 hari vs 50000 tahun, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa surah Al-Ma'aarij ayat 4 ini, selain menyatakan waktu vs waktu, juga menyatakan kecepatan karena menceritakan mengenai bagaimana "malaikat dan jibril naik dengan kadar waktu".

Berikut kita akan melakukan perhitungan yang akan menunjukkan "satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun" mengindikasikan bagaimana benda-benda yang memasuki wormhole dengan kecepatan cahaya, ketika melewati wormhole (ma'aarij), benda-benda tersebut tetap bergerak dengan kecepatan cahaya. Berdasarkan teori relativitas, terdapat rumus :


dimana :
∆t0 = waktu yang diukur terhadap sesuatu yang bergerak oleh dirinya
∆t = waktu yang diukur terhadap sesuatu yang bergerak oleh sesuatu yang relatif diam (pengamat) terhadap sesuatu yang bergerak tersebut
v = kecepatan sesuatu yang bergerak relative terhadap sesuatu yang diam / pengamat
c = kecepatan cahaya = 299792.458 km/detik

Dalam kaitannya dengan Al-Ma'aarij ayat 4 ini :
∆t0 = waktu yang dirasakan oleh para malaikat (1 hari)
∆t = waktu yang dirasakan oleh manusia (50000 tahun x 12 bulan/tahun x 27.321582 hari/bulan).
v = kecepatan malaikat
c = kecepatan cahaya = 299792.458 km/detik.

Dari rumus di atas, maka dapat kita hitung nilai v (kecepatan) adalah :
 v = c (1-(∆t0/∆t)^2)^(1/2)
    = 299792.458 x (1-(1/(50000 x 12 x 27.321582))^2)^(1/2)
    = 299792.45799999944220255432881371 km/detik

Jadi terlihat bahwa kecepatan malaikat, dan benda-benda lain yang memasuki "ma'aarij" adalah sangat mendekati atau setara dengan kecepatan cahaya, walaupun di dalam ma'aarij itu sendiri terjadi dilatasi waktu dimana satu hari didalam ma'aarij terasa seperti 50000 tahun. Akan tetapi hal ini tidak mengindikasikan berapa lama waktu dalam menempuh "ma'aarij" tersebut, akan tetapi mengindikasikan bahwa setiap benda di dalam "ma'aarij" akan mengalami rasio perbandingan waktu yang sama, yaitu 1 hari didalam Ma'arij akan terasa seperti 50000 tahun.

Artinya, bukan berarti waktu tempuh malaikat di dalam Ma'aarij adalah satu hari. Bisa jadi satu detik, satu milidetik, satu nanodetik atau dalam waktu tempuh lain yang sangat singkat. Karena ayat 4 di atas menyatakan bahwa Malaikat naik melalui Ma'arij dengan kecepatan cahaya yang apabila malaikat bergerak dengan kecepatan tersebut di dalam Ma'arij selama satu hari, akan sama seperti 50000 tahun yang dirasakan manusia di bumi. Hal ini sesuai dengan rumus relativitas di atas.

Mengapa Allah tidak mengatakan secara jelas bahwa itu kecepatan cahaya ? Bayangkan kita berada 15 abad yang lalu, kemudian kita mengatakan kepada semua orang "Malaikat bergerak dengan kecepatan cahaya". Pastilah kita akan ditertawakan. Tidak ada yang tahu pada masa itu bahwa cahaya memiliki kecepatan, terpikirkan hal seperti itu pun tidak. Mengatakan bahwa cahaya memiliki kecepatan pada masa itu adalah hal terbodoh yang mungkin dilakukan. Atau mengatakan "Malaikat naik dengan kecepatan yang sangat cepat", hal ini menjadi tidak akurat. Seberapa cepat? Informasi seperti ini membuat Al-Qur'an menjadi suatu kitab yang dangkal dan tidak bermakna. Apalagi jika kita mengatakan "Malaikat naik dengan kecepatan 299792.458 km per detik". Istilah kilometer bahkan detik belum dikenal 15 abad yang lalu.

Jadi lihatlah bagaimana Allah menggunakan istilah yang dapat diterima oleh manusia pada saat diturunkannya Al-Qur'an dan mampu dibuktikan berabad-abad kemudian dengan ilmu pengetahuan.

Al-Qur'an dan tuduhan penyontekan

Sebagian ahli kitab menganggap informasi "satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu" adalah menyontek dari Alkitab yang diturunkan beberapa abad sebelum datangnya nabi Muhammad SAW. Di dalam Alkitab, ada dua ayat yang dikatakan menyebutkan satu hari sama dengan seribu tahun, seperti halnya yang ada dalam surah As-Sajadah ayat 5 dan Al-Hajj ayat 47. Kedua ayat dalam Alkitab yang dimaksud adalah : 
[2 Petrus 3:8-9] Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. 
 [Mazmur 90:4] Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti (satu) hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. 
Disini Penulis hanya ingin menerangkan, dalam 2 Petrus pasal 3 ayat 8 itu istilah "satu hari sama dengan seribu tahun" menunjukkan kesabaran Tuhan, bahwa Tuhan Maha Sabar, sebagaimana dijelaskan dalam ayat ke-9 selanjutnya. Oleh karena itu penulis 2 Petrus menambahkan "dan seribu tahun sama seperti satu hari", mengindikasikan dihadapan Tuhan, baik sehari maupun seribu tahun, sama saja. Jika, anggaplah, ayat tersebut pun mengindikasikan kecepatan cahaya sama seperti surah As-Sajadah ayat 5 diatas, berarti ayat alkitab di atas mengatakan di satu sisi Tuhan bergerak dengan kecepatan cahaya (satu hari sama dengan seribu tahun) dan di satu sisi manusia bergerak dengan kecepatan cahaya melebihi Tuhan (seribu tahun sama dengan satu hari) (perhatikan disini objeknya adalah Tuhan, sebagaimana Al-Hajj ayat 47, sehingga dalam pembahasan di atas tidak disamakan dengan kecepatan).

Ditambah lagi, saat dimana 2 Petrus ini diturunkan, penanggalan yang dipergunakan adalah penanggalan matahari, yang membagi bulan berdasarkan perubahan musim dan ketetapan, yang dapat diketahui dari sejarah pembentukan kalendar Julian/Gregorian, dimana penanggalan ini memiliki hari bernilai antara 30 atau 31 hari per bulan kecuali Februari, bukan berdasarkan pengamatan sinodik dari fase bulan ke fase yang sama di bulan berikutnya. Hal ini menyebabkan apabila dipergunakan untuk menghitung kecepatan cahaya seperti As-Sajadah ayat 5, maka akan diperoleh hasil yang jauh berbeda.

Sama halnya dengan Mazmur pasal 90 ayat 4 di atas, "seribu tahun di mata Tuhan, sama dengan satu hari (kemarin) dimata manusia atau sama saja lamanya dengan lamanya giliran jaga manusia di waktu malam". Sehingga jika ayat ini dihubungkan dengan relativitas waktu, maka waktu disisi Tuhan terasa lebih cepat daripada waktu disisi manusia.

Pemilihan kata, selalu menjadi keajaiban Al-Qur'an, karena Allah maha Teliti. Untuk ayat-ayat mengenai waktu ini, kelebihan Al-Qur'an dalam hal ini adalah penambahan kata "menurut perhitunganmu", yang mana sesuai pembahasan di atas, menunjukkan kecepatan (apabila menggunakan "menurut perhitunganmu" dengan objek malaikat atau relativitas waktu apabila objeknya Tuhan) atau relativitas waktu (jika tidak menggunakan "menurut perhitunganmu" dengan objek malaikat), wallahu a'lam.

Ashabul Kahfi dan umur nabi Nuh 

Siapa yang tidak kenal dengan kisah Ashabul Kahfi? Kisah yang menakjubkan ini diabadikan dalam Al-Qur'an dalam surat Al-Kahfi. Secara singkat, ashabul kahfi ini terjadi di kota Sahab, wilayah Amman. Pada waktu itu Amman di bawah kekuasaan Romawi dan bernama Philadelphia, yang merupakan pusat dari Decapolis. Philadelphia ini di perintah oleh Raja Daqyanus (Decius) yang sangat benci kepada orang-orang Nasrani-Muslim (Nasrani yang mengimani Allah sebagai Tuhan dan Yesus sebagai utusan Tuhan). Alkisah, 7 orang pemuda melarikan diri ke dalam gua bersama anjingnya dalam usaha meloloskan diri dari usaha pembantaian raja Daqyanus ini. Didalam gua, mereka di tidurkan Allah selama 309 tahun. Selengkapnya bisa di baca dalam surah Al-Kahfi.

Tapi disini, akan dibahas satu ayat khusus, Al-Kahfi ayat 25 yang terjemahannya sebagai berikut :
[18:25] Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
Yang menarik adalah gaya bahasa yang dipakai. Tiga ratus tahun, ditambah sembilan tahun. Mari kita kembali berhitung disini. Bila kita hitung (365*300)/354 dimana 365 adalah jumlah hari setahun dalam perhitungan matahari, sedangkan 354 adalah jumlah hari setahun dalam perhitungan bulan. Hasilnya? 309.

Ya, ayat ini ingin menyatakan : lamanya mereka tidur adalah 300 tahun bagi mereka yang menggunakan perhitungan tahun matahari, tetapi ditambah 9 tahun lagi bagi mereka yang menggunakan perhitungan bulan. Mengapa demikian? Ayat ini diturunkan dikalangan orang Arab yang saat itu menggunakan peredaran bulan sebagai perhitungan waktu. Tetapi pada saat terjadinya peristiwa ashabul kahfi ini, yang digunakan di Philadelphia adalah perhitungan matahari, karena saat itu Philadelphia dibawah kekuasaan romawi, dan romawi menggunakan perhitungan matahari.

Gaya bahasa yang sama dalam Al-Qur'an digunakan dalam ayat lain ketika membicarakan unur nabi nuh : 
[29:14] Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, dan ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Dan mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.
Yang jelas, ayat di atas tidak menggambarkan perhitungan matahari vs perhitungan bulan sebagaimana ashabul kahfi diatas. Akan tetapi 950 tahun (seribu tahun kurang lima puluh tahun) yang disebutkan di atas adalah waktu perhitungan bulan karena perhitungan bulan-lah yang digunakan bangsa Arab pada waktu ayat ini diturunkan. Dan bisa jadi, seribu tahun itu yang disebutkan diatas adalah seribu tahun menurut perhitungan kaum nabi nuh saat itu. Sehingga, bisa jadi, seribu tahun menurut perhitungan kaum nabi nuh sama dengan 950 tahun menurut perhitungan bulan bangsa Arab pada saat ayat ini diturunkan. Dari ayat ini juga bisa jadi mengindikasikan pada masa Nabi Nuh, kemungkinan rotasi bumi ataupun revolusi bulan lebih cepat daripada saat ini, sebagaimana diketahui oleh ilmu pengetahuan saat ini bahwa rotasi bumi di jaman dahulu pernah lebih cepat daripada rotasi bumi saat ini. Dari http://www.astronomycafe.net/qadir/q395.html dan juga referensi lainnya di web juga disebutkan bahwa Bumi di masa lalu ber-rotasi lebih cepat dibandingkan masa sekarang. Akan tetapi tentu saja Allah yang lebih tahu kepastiannya, Wallahu a'lam.

Di dalam postingan "Sembilan Belas - Pendeteksi Keaslian Al-Qur'an" juga telah disebutkan bahwa penggunaan gaya bahasa "tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun" maupun "Seribu tahun dikurangi lima puluh tahun" merupakan salah satu kekonsistenan keseluruhan Al-Qur'an dari sisi matematika, dalam kaitannya dengan angka “sembilan belas”.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya

Sumber : catatanmoeslim.blogspot.com
Baca Selengkapnya ... »»  

Terlalu cepat memberikan penilaian..!!! (Renungan).

Ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yg sangat cantik & gagah. Suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu & menawarkan harga yg sangat tinggi. Sayang si petani miskin itu tidak menjualnya. Teman-2 nya menyayangkan & mengejek dia karena tidak menjual kudanya itu.

Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandangnya. Maka teman-2 nya berkata : "Sungguh jelek nasibmu, padahal kalau kemarin di jual kamu kaya, sekarang kudamu sudah hilang". Si petani miskin hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama 5 ekor kuda lainnya. Lalu teman-2 nya berkata : "Wah beruntung sekali nasibmu, ternyata kudamu membawa keberuntungan". Si petani pun tetap diam.

Beberapa hari kemudian, anak si petani yg sedang melatih kuda-2 baru mereka terjatuh dan kakinya patah. Teman-2 nya berkata : "Rupanya kuda-2 itu membawa sial, lihat sekarang anakmu kakinya patah. Si petani tetap diam tanpa komentar.

Seminggu kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang, kecuali si anak petani karna tdk bisa berjalan. Teman-2 nya mendatangi si petani sambil menangis : "Beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang, kami harus kehilangan anak2 kami".

Si petani kemudian berkomentar : "Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau jelek, semuanya adalah suatu rangkaian proses. Syukuri & terima keadaan yang terjadi saat ini, apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok. Tetapi yang PASTI : Tuhan paling tahu yang terbaik buat kita.. "

"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan di dalam hidup kita" 

Baca Selengkapnya ... »»  

Renungan : Peran Anggota Keluarga...!!!



Bill Havens, seorang pendayung hebat berkaliber Internasional dalam masa karantinanya menjelang piala dunia mendayung, menerima berita bahwa istrinya akan segera melahirkan.


Setelah mendengar kabar tersebut ia memilih untuk pulang dan tidak mengikuti kejuaraan dunia serta memutuskan untuk menunggui istrinya yg akan melahirkan.


Belasan tahun kemudian th 1952, Bill menerima telegram dari putranya, Frank yang pada saat itu baru saja memenangkan medali emas cano 10.000 meter pada Olimpiade di Finlandia.


Telegram itu isinya:


"Ayah, terimakasih karena telah menunggu kelahiran saya. Saya akan pulang membawa medali emas yg seharusnya ayah menangkan beberapa tahun yg lalu. Anakmu tersayang, Frank..."


Dari kisah diatas kita bisa belajar bagaimana kehadiran keluarga berdampak sangat besar bagi anggota keluarga tersebut.
Baca Selengkapnya ... »»  

Diam Membuat Kita Mati...!!!

Digit-All data.net, All Timeless Story, Multi Informasi Tips Trik dan ilmu pengetahuan
Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tersebut masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan. 

Jauh lebih nikmat dibandingkan dengang ikan salmon yg sudah diawetkan dengan es. 

Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapnya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalanan menuju daratan salmon-salmon tersebut tetap hidup. 

Mesti demikian, pada kenyataannya banyak salmon yang mati dikolam buatan tsb. Bagaimana cara nya mereka menyiasatinya? 

Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil dikolam tersebut. Ajaib!! Hiu kecil tersebut "memaksa" salmon-salmon itu terus bergerak karena jangan sampai dimangsa. Akibatnya jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit ! 

DIAM MEMBUAT KITA MATI ! DAN BERGERAK MEMBUAT KITA HIDUP....! 

Kurang lebih itulah pesan moral yg dapat kita tangkap dari gambaran diatas.  Apa yg membuat kita diam? Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona kenyamanan. Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati.  Ironis, bukan? 

Apa yg membuat kita bergerak? Masalah, pergumulan dan tekanan hidup. Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha bagaimana mengatasi semua pergumulan hidup itu. 

Disaat saat seperti itu biasanya kita akan ingat Tuhan dan berharap kepada Tuhan. Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa !! Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup. 

Itu sebabnya syukurilah "hiu kecil" yg terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive! Be blessed..... 


Renungan

Baca Selengkapnya ... »»  

Langkah pertama...!!! (Renungan)

Langkah pertama selalu diperlukan. Perjalanan 1.000 km selalu diawali dengan langkah pertama. Bisnis besar, karir yang cemerlang, dan kehidupan sukses lainnya diawali dengan langkah pertama. Atau saat Anda memasuki kehidupan yang baru, baik dalam bisnis, karir, keluarga, dan sebagainya, Anda akan melalui langkah pertama.

Apa istimewanya langkah pertama? Langkah pertama itu berat. Seperti mobil atau sepeda motor, untuk mulai menggelinding harus menggunakan gigi satu karena memerlukan tenaga yang besar. Setelah berjalan, mobil bisa menggunakan gigi 2,3,4, dan 5. Langkah pertama juga adalah momentum. Kesulitan akan terjadi pada langkah pertama, dan itu adalah wajar. Namun, saat kita berhasil melalui langkah pertama, maka apa yang kita lakukan akan lebih lancar.

Langkah Pertama Tidak Berhasil
Banyak orang yang mengalami kegagalan pada langkah pertama. Kegagalan ini adalah wajar. karena kita masih meraba-raba. Langkah pertama memang seringkali begitu sulit sehingga banyak yang gagal. Namun, bukan masalah gagal atau tidaknya yang harus menjadi perhatian Anda, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana Anda menyikapi kegagalan tersebut.

Karena kegagalan di langkah pertama itu adalah sesuatu yang wajar, maka Anda tidak perlu kecewa, tidak perlu sedih, apalagi menyerah karena putus asa. Santai saja. Berpikirlah yang jernih untuk mencari jawaban agar Anda bisa melangkah dengan benar. Tariklah nafas untuk mencari dan mengumpulkan energi untuk memulai melangkahkan kaki. Lalu Cobalah lagi dengan cara yang berbeda setelah Anda mempelajari kesalahan sebelumnya.

Langkah Pertama = Keluar Zona Nyaman
Saat Anda melakukan langkah pertama, artinya ada sedang berusaha keluar dari zona nyaman. Memang perpindahan zona selalu memerlukan energi lebih. Anda perlu energi lebih untuk mempelajari langkah-langkah yang harus Anda tempuh. Anda perlu energi sebab daya tarik zona nyaman begitu besar dan Anda harus lepas dari tarikan untuk kembali ke zona nyaman.

“Wah ternyata sulit, ini bukan untuk saya.”
“Saya tidak sanggup melakukan hal ini.”
“Saya memang tidak berbakat.”

Kata-kata diatas adalah lagu lama Anda di zona nyaman. Jangan biarkan hati Anda menyanyikan lagu-lagu ini karena Anda akan terus terlena menikmati zona nyaman. Zona nyaman adalah ilusi. Tidak ada kenyamanan sejati di zona nyaman.

Sekali Anda berhasil mengayunkan langkah pertama, artinya Anda sudah berada di zona zukses. Langkah selanjutnya akan lebih mudah. Yang Anda perlukan sekarang adalah cari tahu bagaimana cara melangkah dan kumpulkan energi untuk kekuatan langkah Anda. Ingat, langkah pertama adalah titik awal keberhasilan Anda. Jangan berhenti apalagi mundur.

Lihatlah seorang bayi yang sedang belajar berjalan. Dia mencoba berjalan, kemudian terjatuh. Mungkin dia nangis, tetapi dia berusaha lagi untuk mencoba melangkah dengan penuh keceriaan. Sampai akhirnya dia mampu berjalan bahkan berlari.

Tidak berhasil pada langkah pertama adalah sesuatu yang wajar, tetapi kita tidak akan mengerti jika tidak mencoba, semua orang sukses pernah mengalami kegagalan, justru karena gagal itu dia mengerti letak kegagalannya. Bandingkan dengan orang yang tak pernah berani untuk mencoba. Yang penting teruslah mencoba untuk melangkah.

Baca Selengkapnya ... »»  

Beratnya jika kenikmatan diminta...!!! (Renungan)

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.

Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji : Tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya : “Ibu,bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi…!!” Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten…

“Oke … Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?” Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.”Terimakasih…, Ibu”

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau…

Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya “Anisa…, Anisa sayang nggak sama Ayah ?”
“Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !”
“Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”
“Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek… ! Itu kesayanganku juga”
“Ya sudahlah sayang,… nggak apa-apa !”.

Ayahnya mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, “Anisa…, Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?”
“Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah ?”.
“Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”
“Jangan Ayah… Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.. “
Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan.
Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya…
“Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?”
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangan nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya ” Kalau Ayah mau… ambillah kalung Anisa”

Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa…
“Anisa… ini untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau”

Ya, ternyata Ayahnya justru memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa. Mutiara asli yang sejak beberapa hari lalu dia simpan untuk anaknya.

Demikian pula halnya dengan Pencipta, terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita terlalu tamak dengan apa yang kita miliki, sehingga untuk yang membutuhkan pun, terkadang kita terlalu berat untuk mengeluarkannya bahkan hanya sesuatu yang sudah usang dan sudah tak layak, yang kita berikan.

Padahal Sang Pencipta menjamin untuk menggantinya dengan yang lebih baik. Seperti Annisa atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan…kecuali jika sudah tak layak, ……….

Baca Selengkapnya ... »»  

Cinta Ibu... (Renungan)

Seorang Ibu terduduk di kursi rodanya suatu sore di tepi danau, ditemani Anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga. 

Si ibu bertanya " itu burung apa yg berdiri disana ??" 
"Bangau mama" anaknya menjawab dengan sopan. 


Tak lama kemudian si mama bertanya lagi.. 
"Itu yang warna putih burung apa?" 
sedikit kesal anaknya menjawab " ya bangau mama?..." 

Kemudian ibunya kembali bertanya 
" Lantas itu burung apa ?" Ibunya menunjuk burung bangau tadi yg sedang terbang... 

Dengan nada kesal si anak menjawab "ya bangau mama. kan sama saja!..emangnya mama nggak lihat dia terbang!" 

Air menetes dari sudut mata si mama sambil berkata pelan.."Dulu 26 tahun yang lalu aku memangku mu dan menjawab pertanyaan yg sama untuk mu sebanyak 10 kali,..sedang saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tapi kau membentakku 2 kali.." 

Si anak terdiam...dan memeluk mamanya. 

Sahabat.....,


Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang mama kepada kita? Sayangilah Mama/Ibu-mu dengan sungguh2 karena sorga berada di telapak kaki Ibu. 

Mohon ampunan jika Sahabat pernah menyakiti hati Ibu/Mama. 
Baca Selengkapnya ... »»